Di Publish Pada Tanggal : Senin, 15 Februari 2016 14:37 WIB

Surat Anak & Keluarga Ongen: Untuk Pemimpin ASEAN dan Obama

PRESIDEN Obama dan para pemimpin Negara ASEAN izinkan kami menyampaikan rasa hormat untuk Anda semua yang sedang berkumpul dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN-Amerika Serikat di Sunnylands, Rancho Mirage, California, Amerika Serikat, pada 15-16 Februari 2016.

Melalui surat terbuka ini, kami sebagai warga negara Indonesia ingin menyampaikan kepada para pemimpin negara ASEAN dan Amerika Serikat setelah Pemilihan Presiden 2014 terjadi situasi baru yang sama sekali tidak terduga dimana demokrasi di Indonesia alami kemerosotan akibat penggunaan kekuasaan sebagai kekuatan yang mengubah  mengubah hukum menjadi ancaman demokrasi dan meneror masyarakatnya.

Kepolisian Indonesia salah satu penegak hukum yang paling sulit menyesuaikan diri dengan proses demokrasi di Indonesia. Bongkar pasang dan mencari jenderal polisi yang profesional dan bersih sejak tahun 1998 adalah problem yang belum terpecahkan. Kepolisian selalu menjadi sorotan dan sumber masalah terutama soal pemberantasan korupsi.

Setelah Pemilihan 2014 muncul beruntun kriminalisasi dan politisasi antar-penegak hukum seperti kasus yang penangkapan dan penahanan  pimpinan  KPK hingga yang menimpa ayah kami DR Y paonganan warga negara biasa yang bersikap kritis terhadap Presiden Joko Widodo  yang berujung pada penangkapan dan  penahanan serta penggunaan pasal hukum yang salah dan dipaksakan.

Kami menganggap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh kepolisian terhadap pimpinan KPK maupun ayah kami DR Y Paonganan  memiliki tujuan-tujuan politik  tersendiri yang tidak sama dengan tujuan penegakan hukum yang berdasar aturan hukum yang ada.

Pemerintahan kami saat ini di bawah kepemimpinan Joko Widodo alergi terhadap kritik dan kembali mendekati masa suram Indonesia di masa lalu dimana hukum menjadi instrumen politik yang melanggar HAM universal. Pasal 9 deklarasi umum Hak asasi Manusia menentukan bahwa “tiada seorangpun boleh ditangkap, ditahan, atau dibuang secara sewenang-wenang”.

Presiden Obama dan para pemimpin Negara ASEAN mungkin sudah mengetahui kondisi hukum dan ancaman Demokasi dan HAM di Indonesia. Kasus yang menimpa ayah kami sebetulnya masalah dalam negeri kami sendiri, tetapi Presiden kami tidak mau mendengar kritik masyarakatnya malah diam di saat ada warga negaranya yang dirampas kemerdekaannya. Kami sudah 62 hari kehilangan ayah yang sangat kami cintai karena ditangkap, ditahan secara sewenang-wenang.

Karena itu kepada Anda semua yang hadir dalam pertemuan memiliki kewajiban yang sama seperti kami rakyat Indonesia untuk mengingatkan Presiden kami yang hadir di pertemuan itu  agar memegang teguh apa yang sudah tertera pada pasal 9 deklarasi umum HAM.

Kami tidak semata memperjuangkan pembebasan ayah, tetapi kami ingin semua agenda yang dibicarakan di sana bisa terwujud nantinya di Indonesia sehingga tidak sia-sia. Semua agenda kerja sama ASEAN atau ASEAN dan Amerika serikat bisa terjalin  seperti selama ini apabila demokrasi dan hal fundamental HAM sudah tidak lagi menjadi masalah serta aparat hukum bekerja dengan tujuan hukum dan keadilan. Kerjasama politik dan ekonomi itu syaratnya adalah kepastian hukum.

Semoga sepulangnya dari pertemuan itu, Presiden kami berubah pikiran dan mencoba menjadi pemimpin yang menghormati persoalah fundamental dalam demokrasi, hukum dan HAM. Cukup sudah ayah kami menjadi korban kriminalisasi terakhir. Kami ingin menyambut kepulangan ayah kami di halaman depan tempat biasa kami berkumpul bersama. Tak ada dendam sedikitpun dari kami kepada pemerintah yang sudah mengambil hak kemerdekaan sebagai manusia. Kami memaafkan, tapi kami tidak akan melupakan.

Salam

Children and Family of Yulian Paonganan
 

(AN)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats