Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 15 November 2016 10:21 WIB

Jangan Mau Diadudomba

Gereja Oikumene di Jl Dr Cipto Mangukusumo No 32 Rt 03, Sengkotek, Samarinda Seberang, Kalimantan Timur diserang dengan bom molotov. Serangan bom low explosive ini menyebabkan 4 orang mengalami luka-luka satu diantaranya balita. Pelaku pelemparan bom berhasil diamankan secara hidup-hidup. 

Kita kaget dengan peristiwa itu, dan mengutuk keras pelakunya. Pemboman gereja dan tempat ibadah manapun merupakan perbuatan sangat biadab, karena itu sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip kehidupan bernegara apalagi dilandasi oleh ketuhanan Yang Maha Esa.

Kita bisa pastikan tujuan pemboman itu jelas untuk  mengadudomba antar kerukunan umat beragama yang terjadi di Samarinda khususnya dan Indonesia pada umumnya.  Itulah sebabnya berbagai kalangan meminta rakyat untuk tidak mudah terpengaruh dan terprovokasi.

Disisi lain kita berharap Badan Intelijen Negara (BIN) untuk bekerja keras menangkal gerakan-gerakan separatis, teroris dan gerakan apa saja yang berusaha merusak kerukunan umat beragama di negeri ini. Dengan demikian, BIN bisa melakukan deteksi lebih awal, sehingga peristiwa pemboman bisa dicegah. Dengan demikian tidak akan memakan korban yang cukup banyak.

Tentu saja aparat penegak hukum  segera bertindak cepat dan lugas memberikan penindakan hukum kepada pelaku yang tertangkap tangan.  Sekaligus harus mampu mengorek keterangan apa motif dari pelaku melakukan pemboman gereja, dan siapa dalang yang menyuruhnya.

Seluruh anak bangsa tak menginginkan kerusuhan berbau SARA meluas di negeri ini. Pasti merugikan kita semua, seperti yang terjadi di negara-negara lain. Jika konflik ini meluas, maka akan menganggu stabiitas ekonomi dan politik Indonesia.

Berbagai kalangan juga mengingatkan agar jangan ada orang yang memancing di air keruh menyangkut SAR, karena dampak kerusakan sosialnya amat parah. Baik secara fisik maupun secara psikologis.

Itulah sebabnya, pemboman gereja itu  harus dingani serius oleh pemerintah. Jika tidak akan meluas berpotensi meluas ke daerah lain. Pemerintah dan semua pihak jangan menganggap sepele peristiwa ini. Sebab, bukan tidak mungkin akan ada potensi letupan konflik yang lebih besar dan luas karena bersifat SARA.

Potensi kerusuhan berbau SARA di negeri ini seperti dikatakan para wakil rakyat, pengamat dan tokoh-tokoh agama masih sangat besar. Hal ini terutama dipicu aktor kesenjangan sosial-ekonomi.  

Selain itu ruang demokrasi juga sedang mencuatkan posisi dan peran politik yang lebih besar kepada unsur minoritas. Apalagi, Indonesia masih menyimpan riwayat konflik SARA yang panjang dan tetap menjadi bahaya laten.  

Hal lain yang juga ikut memicu terjadinya kerusuhan SARA adalah sikap arogansi dari kelompok minoritas terhadap kelompok mayoritas. Itulah sebabnya berbagai kalangan mengharapkan agar kaum minoritas tahu diri, sementara kaum mayoritas menerima mereka dengan baik.   

Guna mencegah konflik antaragama di negeri ini meluas,  pemerintah  harus melakukan dialog dengan  sejumlah tokoh masyarakat dan pemuka agama. Antar pemuka agama juga harus secara terus menerus melakukan dialog dan mengajak umatnya untuk selalu menghargai umat lainnya. Aparat keamanan juga harus tanggap dengan situasi psikologis masyarakat setempat. Sehingga  amuk bisa dicegah dengan cepat.  

Harapan kita, sesama anak bangsa jangan sampai kehilangan rasa toleransi dan menghargai satu sama lain. Rasa toleransi yang mengargai satu sama lain sebagai sesama anak bangsa jangan  hanya hidup di permukaan saja. Tapi harus dipraktekkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tentu kita mendukung langkah aparat keamanan untuk terus melakukan koordinasi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk mengatasi kerusuhan tersebut.

Persaudaraan antar umat beragama yang telah terbina baik di negeri ini, karenanya harus tetap terjaga. Selama ini, meski berbeda agama, umumnya masyarakat di negeri ini  masih diikat tali persaudaraan. Berasal dari akar budaya yang sama, membuat warga hidup rukun dari masa ke masa. Bukan hal aneh, dalam acara atau kegiatan suatu agama, penganut lain ikut berpartisipasi.  

Perbedaan tak memutus tali silaturahmi di antara warga. Sungguh indah dan menyejukkan. Seluruh lapisan masyarakat harus mempertahankan Indonesia sebagai tempat toleransi umat beragama di Indonesia. Damai itu indah.
 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats