Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 20 Desember 2016 23:43 WIB

Msg Aman Asal tak Berlebihan

PASTI kalian pernah kan mendengar kalimat “Jangan kebanyakan MSG nanti jadi bodoh!”, bahkan didaerah kampus saya tukang jualan kentang goreng berbumbu saja sampai disebut dengan “kentang bego”. Hal kecil seperti ini lama kelamaan dapat menjadi pemahaman yang salah dan akhirnya terpaku didalam mindset masyarakat. Akhirnya masyarakat menjadi takut karena anggapan konsumsi MSG dapat menyebabkan kebodohan atau penyakit. Padahal belum ada bukti ilmiah yang valid untuk membuktikannya. Jadi apakah hal itu benar?
 
Salah satu bahan tambahan pangan yang sering digunakan pada industri kecil hingga industri besar adalah Monosodium Glutamat atau lebih dikenal dengan nama MSG atau mecin. MSG merupakan salah satu bahan tambahan pangan (BTP) yang berfungsi sebagai penguat rasa. 
 
Penguat rasa (Flavour enhancer) adalah BTP untuk memperkuat atau memodifikasi rasa dan/atau aroma yang telah ada dalam bahan pangan tersebut tanpa memberikan rasa dan/atau aroma tertentu. MSG merupakan garam natrium yang berikatan dengan asam glutamat yang merupakan salah satu asam amino non-esensial yang bersifat larut dalam air. 
 
Rasa umami pada MSG ini dapat diolah melalui proses fermentasi tetes tebu oleh bakteri Brevi-bacterium lactofermentum yang akan menghasilkan asam glutamat. Asam glutamat yang dihasilkan ditambahkan garam natrium sehingga mengkristal dan membentuk rasa umami. 
 
Asam glutamat sendiri merupakan asam amino non-esensial bagi tubuh, kita tidak perlu menambahkan asam amino tersebut dalam makanan karena asam amino tersebut dapat dibuat sendiri di dalam tubuh. Selain pada MSG, asam glutamat secara alami terdapat pada hampir seluruh bahan makanan, mulai dari ikan, daging, susu, sayuran, hingga buah-buahan.
 
Jumlah maksimum BTP yang dapat dikonsumsi setiap hari selama hidup tanpa merugikan kesehatan dapat dinyatakan dalam nilai Acceptable Daily Intake (ADI) dalam miligram per kilogram berat badan manusia. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia menyatakan bahwa nilai ADI atau asupan harian yang dapat diterima MSG tidak dinyatakan (not specified). 
 
Hal ini berarti MSG memiliki toksisitas sangat rendah, berdasarkan data (kimia, biokimia, toksikologi dan data lainnya), jika jumlah asupan bahan tambahan pangan tersebut digunakan dalam takaran yang diperlukan untuk mencapai efek yang diinginkan. 
 
Nilai ADI yang ditetapkan BPOM mengacu pada pendapat Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) yang telah menyatakan MSG tidak menimbulkan bahaya terhadap kesehatan. Dalam pengaplikasian kedalam pangan, batas maksimum penggunaan MSG pada semua kategori pangan dinyatakan dengan Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB) per mg/kg pangan. 
 
Begitupun menurut Food and Drug Administration (FDA), MSG dikategorikan sebagai Generally Recognize as Safe (GRAS). Hal ini menunjukkan jumlah MSG yang diizinkan terdapat pada pangan dalam jumlah yang secukupnya untuk menghasilkan efek sebagai penguat rasa.
 
Masyarakat Amerika dan Eropa rata-rata mengkonsumsi sekitar 11 gram glutamat alami dan 1 gram glutamat yang berasal dari MSG per harinya. Untuk masyarakat Asia, jumlah konsumsi glutamat dari MSG umumnya lebih tinggi, yaitu sekirar 3-4 gram per hari. Konsumsi glutamat yang tinggi pada masyarakat Asia disebabkan oleh kebiasaan konsumsi glutamat yang memang terdapat pada jenis makanan orang Asia, seperti soy sauce atau kecap asin. Di Indonesia, sebagian besar masyarakat mengonsumsi MSG rata-rata sebanyak 0,6 gram/hari. 
 
Dosis MSG yang direkomendasikan oleh JECFA adalah sekitar 30 miligram/berat badan/per hari. Sebagai gambaran, apabila seseorang memiliki berat badan 60 kg, maka dosis MSG yang dianjurkan sebanyak 1,8 gram/hari. Melihat data yang ada, umumnya masyarakat Indonesia termasuk kedalam kategori aman dalam pengonsumsian MSG dibanding masyarakat Asia lainnya. 
Kesalahan utama yang banyak terjadi di Indonesia yaitu, masyarakat kurang mengetahui fungsi sebenarnya dari MSG sebagai penguat rasa. Sebagai contoh, dalam pembuatan kaldu ayam untuk soto atau sup, MSG seringkali digunakan sebagai bumbu utama untuk memberikan rasa, bukan dari kaldu ayam yang diekstrak langsung. Seharusnya MSG diberikan dalam takaran yang cukup dalam kaldu ayam yang telah dibuat karena MSG hanya berfungsi untuk memperkuat rasa kaldu tersebut. 
 
Menurut FDA, MSG yang dikonsumsi akan dipecah oleh sistem pencernaan menjadi sodium/natrium (Na) dan Glutamat. Na akan menjadi ion yang terlibat dalam berbagai macam proses di tubuh. Sebanyak 95% glutamat akan dimetabolisme oleh sel-sel usus halus dan menjadi energi untuk menjalankan pencernaan di usus halus itu sendiri. Sisanya sebanyak 5% berperan dalam pembentukan protein atau dijadikan prekursor (bahan pemula) untuk menghasilkan senyawa lain, seperti glutathione, proline, dan arginine. Sementara kelebihan Na atau Glutamat di dalam tubuh akan dikeluarkan melalui urin.
 
Keamanan penggunaan MSG sendiri masih menjadi kontroversi. Kebanyakan mitos tentang efek samping MSG tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat. Apabila terjadi kontroversi tentang suatu masalah sebaiknya merujuk perbedaan pendapat tersebut pada penelitian ilmiah atau rekomendasi resmi dari institusi kesehatan internasional yang kredibel. 

( Oleh Brian Shabrina, M Fahrizal Setiawan)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats