Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 04 April 2017 11:11 WIB

Bencana Alam Silih Berganti

BENCANA tanah longsor yang terjadi di Ponorogo, Jawa Timur masih menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat 26 korban yang belum ditemukan. Tim gabungan masih terus bekerja bahu-membahu untuk menemukan semua jenazah yang tertimbun berton-ton tanah lumpur bercampur batuan.

Saat ini puluhan korban tanah longsor di Desa Banaran, Kabupaten Ponorogo, mulai sakit-sakitan dan depresi akibat situasi bencana yang mereka alami. Penyakit yang mulai muncul seperti gatal-gatal pada kulit, batuk pilek, hingga depresi. Depresi dipicu oleh stres berlebihan akibat trauma bencana dan efek kejut pada kejiwaan para korban atau keluarga korban yang belum rela kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarga.

Di pengungsian sejumlah ada 40 warga mulai stres akibat trauma psikologis. "Di sana ada 40, dan rata-rata mengalami stres yang menjadi gejala depresi," ujar dr Yunita.

Peristiwa tanah longsor di Ponorogo tentu harus mendapat perhatian kita semua, terutama warga yang kehilangan tempat tinggalnya. Pemerintah pusat dan daerah harus memikirkan untuk menyiapkan tempat tinggal yang layak bagi para korban, tentu di tempat yang bebas dari bencana longsor.
Bencana alam dan musibah silih berganti menyerang negeri ini sejak tahun 2004. Dari tsunami di Aceh dan Nias, gempa di Yogyakarta, letusan gunung berapi, tanah longsor, banjir, lumpur panas dan kecelakaan transportasi. Terakhir bencana tanah longsor di Ponorogo. Bencana ini sudah banyak memakan korban jiwa dan harta benda.

Hal ini semakin menunjukkan bahwa ancaman tanah longsor dan banjir masih ada di sekitar lingkungan kita. Masyarakat yang tinggal di dataran bawah cenderung terancam banjir, sedangkan yang di dataran tinggi cenderung tergerus tanah longsor.

Korban berjatuhan, harta benda hilang tersapu, dan keluarga dan masyarakat bersedih karenanya. Seolah musibah telah menjadi agenda tahunan yang terus berulang dan kita tidak tahu kapan berhentinya.

Sudah menjadi tugas pemerintah untuk selalu memberikan peringatan dan pengetahuan terhadap kemungkinan munculnya bencana di daerah-daerah yang sudah bisa diperkirakan. Lembaga swadaya masyarakat (LSM)  juga harus berperan aktif.

Di wilayah-wilayah rawan bencana inilah medan yang sesungguhnya membutuhkan peran LSM. Membimbing, memotivasi, memberikan contoh tentang bagaimana mengelola lingkungan yang aman harus dibangun agar terhindar dari musibah. Gelombang musibah longsor yang terus menerus seharusnya menuntun LSM bergerak.

Kewaspadaan, itu intinya. Toh, hampir setiap bencana selalu didahului dengan kelengahan, kecerobohan dan kesalahan dalam kalkulasi. Semua pihak harus  terus menerus mengikuti terjadi perubahan lingkungan.

Jika kita mengetahui perubahan lingkungan itu, dipastikan warga selama dari bencana longsor.  Pemda dan pemerintah pusat mampu mendeteksi wilayah-wilayah rawan bencana, kemudian melakukan langkah-langkah konkret untuk mencegah sebelum longsor atau banjir terjadi.
Peristiwa Ponorogo harus menjadi pelajaran bagi semua pihak. Kita harus merawat lingkungan yang sudah kita kenali rawan banjir dan longsor. Pemeliharaan hutan di kawasan hulu menjadi langkah yang mutlak harus dilakukan.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah menjauhkan penduduk dari daerah rawan longsor. Dengan semakin meningkatnya ekstremitas cuaca, dan di sisi lain menyusutnya daya tahan lingkungan, daerah yang semula bisa bertahan kini sudah rapuh dan tak bisa bertahan dari longsor.

Bencana beruntun terus menimpa negeri ini. Mulai saat ini kita semua  harus bertekad untuk menyatukan langkah untuk bangkit bersama. Kita harus bersama-sama menjaga  ekologi dan lingkungan hidup. Sebab ekologi bukan lagi terbatas pada tugas pemerintah dan LSM, tapi harus juga dipahami oleh masyarakat sejak anak-anak.

Mulai saat ini pemerintah harus menegakkan hukum kepada siapapun yang merusak lingkungan, penggundulan hutan. Perlu sanksi keras untuk perusak sumber daya alam dan pelanggar UU Lingkungan Hidup.

Ke depannya, pemerintah jangan bertindak setengah-setengah dalam mengatasi masalah longsor, banjir dan lainnya. Harus tuntas, komprehensif dan menyentuh akar masalah.

Keprihatinan kita yang mendalam atas musibah longsor Ponorogo. Semoga kepada korban diberikan perhatian yang sebaik- baiknya dari pemerintah daerah dan pusat. Setidaknya, warga yang kehilangan tempat tinggalnya bisa kembali memiliki rumah. Mereka juga perlu mendapat biaya jaminan hidup selama para korban belum bisa melakukan pekerjaan sehari-hari.

Kita mengajak seluruh anak bangsa untuk membantu korban longsor Ponorogo baik secara materil maupun berupa doa untuk mereka. Sumbanglah sebagian rezeki kita untuk mengurangi beban mereka.

 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats