Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 15 Juni 2017 07:57 WIB

Rizal Ramli, 5 Bulan Sebagai Komut BNI Memoles Kinerja Mendongkrak Laba

Jakarta, HanTer - “Ini bank kuat dan bagus. Tapi memang perlu perbaikan di sana-sini,” ujar Rizal Ramli, ketika ditanya mengapa dia bersedia saat didapuk menjadi Komisaris Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, pertengahan Maret 2015 silam.
 
Banyak orang mengenalnya sebagai ekonom makro yang andal. Pemahaman dan kemampuannya menyelesaikan soal-soal yang membelit perekonomian bangsa sudah meninggalkan rekam jejak nyata. 
 
Paling tidak, dia terbukti sukses saat diamanahi posisi sebagai Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Keuangan di era Presiden Abdurrahman Wahid. Tapi sampai di mana kemampuannya di bidang ekonomi mikro?
 
Bagaimana seorang penasehat ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama tiga pemenang hadiah nobel ekonomi itu menyelesaikan berbagai masalah yang membelit institusi bisnis alias perusahaan? Keraguan semacam itu sebenarnya sudah terjawab ketika dia ‘parkir’ di Bulog dan Semen Gresik Grup. 
 
Jejaknya selaku Kepala Bulog dan Komisaris Utama Semen Gresik Grup dipenuhi dengan kejutan menyenangkan. Kinerja keduanya melonjak, bahkan melampaui ekspektasi banyak pihak. Bukan itu saja, sebagai Menko Perekonomian, penggemar musik klasik ini berhasil menyelamatkan PT PLN (Perero) dari tubir kebangkrutan. Caranya, dia perbaiki kinerja keuangan PLN lewat sejumlah kebijakan terobosan yang mencengangkan. 
 
Ekonom senior yang dikenal kritis itu memang tidak menjelaskan, bagian mana saja atau apa saja yang perlu diperbaiki dari BNI. Namun, dalam periode jabatannya yang sangat singkat, hanya lima bulan (Maret-Agustus 2015), ternyata dia sudah banyak melakukan banyak hal. Tentu bukan asal berbuat, karena buah dari perbaikan yang Rizal Ramli ‘janjikan’ berwujud pada peningkatan kinerja bank pelat merah teresebut. 
 
Mengubah Corporate Plan 
 
Nah, kesaktiannya itu kembali ditunjukkan di BNI. Langkah pertama yang Rizal Ramli lakukan adalah, mengubah corporate plan lima tahun ke depan 2015-2020 agar lebih tajam. Dari sini digariskan sejumlah goals berikut strateginya. Beberapa misi penting yang digariskannya antara lain; harus mampu mengejar BCA. Dia juga minta angka kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) diturunkan secara signifikan. Langkah ini penting, karena ia menjadi prasyarat utama untuk bisa tumbuh pesat. 
 
Misi utama lainnya, menggenjot pertumbuhan kredit di atas rata-rata nasional yang 12%. Untuk itu, agar mampu menggenjot kredit, permodalan BNI harus diperkuat. Caranya, dengan melakukan revaluasi aset. Buat industri perbankan, NPL memang jadi hantu yang menakutkan. Membengkaknya NPL dengan sendirinya bakal menggerogoti laba. Bahkan bukan mustahil momok yang satu ini bisa menyeret bank ke jurang kerugian yang menyesakkan dada. 
 
Di sisi lain, Rizal Ramli juga fokus pada salah satu sumber penghasilan utama perbankan, kartu kredit. Saat itu, kinerja kartu kredit BNI bisa disebut biasa-biasa saja. Bahkan untuk ukuran bank nasional dengan aset ketiga terbesar, prestasi tersebut malah masuk kategori di bawah banderol. Padahal, kalau dikelola dengan baik, kartu kredit bisa jadi sumber penerimaan yang amat bagus.
 
Maklum, pendapatan bunga dari kartu kredit jauh melampaui pos penerimaan lainnya. Maka dia kumpulkan seluruh jajaran komisaris dan direksi. Rizal Ramli minta mereka menggenjot kartu kredit, agar mampu masuk ke posisi dua besar. 
 
Dia juga perintahkan direksi menugaskan seorang pejabat setingkat di bawah direktur, yang khusus bertanggungjawab untuk masalah ini. Selanjutnya, sejumlah tips dan langkah dia sarankan agar dilaksanakan oleh manajemen untuk mewujudkan misi tersebut. Salah satu petuahnya yang mujarab adalah, agar manajemen menjadikan data mining sebagai sumber informasi penyaluran kredit. 
 
Seperti diketahui, biasanya debitor harus mengajukan bermacam dokumen untuk mengajukan kredit baru. Dengan menggunakan data mining prosedur seperti itu tidak diperlukan lagi. Seperti diketahui, data mining atau penggalian data adalah suatu proses menemukan hubungan yang berarti, pola, dan kecenderungan dengan memeriksa sekumpulan besar data yang ada. Teknik yang digunakan dengan pengenalan pola seperti teknik statisik dan matematika. Itu sebabnya data mining bisa menjadi sumber informasi yang akurat bagi penggunanya. 
 
Singkat kata, lewat data mining ini rekam jejak debitor sudah dapat diketahui. Dari situ manajemen bisa menentukan berapa besaran kredit baru yang bisa diberikan kepada yang bersangkutan. Hasilnya, hanya dalam tempo tiga bulan, kartu kredit menjadi salah satu penyumbang pemasukan yang lumayan signifikan. Hal ini ditandai dengan kontribusi segmen kredit konsumer BNI sebesar 17,1% terhadap total kredit BNI, pada semester pertama 2016. 
 
Produk konsumer yang mendominasi adalah BNI Griya diikuti kartu kredit. Itulah sebabnya dalam hitungan bulan kemudian, misi menjejakkan kartu kredit di posisi dua perbankan nasional berhasil dicapai. Lakukan revaluasi aset, genjot kredit Rizal Ramli benar-benar fokus pada kredit. 
 
Dia minta agar manajemen melakukan ekspansi kredit secara lebih agresif. Buat dia, kredit adalah pintu masuk penerimaan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada perolehan laba. Tentu saja, dia juga paham benar, bahwa bank harus tetap mengedepankan prinsip prudent. Menggenjot kredit bukan berarti obral kredit secara serampangan. 
 
Singkat kata, tokoh nasional ini berhasil memainkan instrumen gas dan rem dengan sangat apik di BNI. Di sisi lain, ekspansi kredit mustahil dilakukan jika struktur permodalan tidak kuat. Itulah sebabnya dia memerintahkan direksi melakukan revaluasi aset. Hasilnya, BNI berhasil mendongkrak asetnya sebesar Rp2,1 triliun. Setelah dikurangi kewajiban pajak, sebagian nilai aset inilah yang dimasukkan ke modal. 
 
Itulah sebabnya BNI mampu memompa kredit hingga tumbuh hampir 24% pada semester pertama 2016. Angka ini jauh di atas rata-rata perbankan nasional yang hanya 12%. 73% dari total kredit BNI adalah kredit di segmen business banking. Bentuknya berupa kredit produktif, seperti kredit modal kerja dan investasi. Kemudian disalurkan ke segmen korporasi, menengah, dan rakyat kecil termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ini tidak mengherankan, karena Rizal Ramli selama ini memang dikenal sebagai ekonom yang gigih memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat kelompok menengah-bawah. 
 
Secara umum, tangan dingin Rizal Ramli menunjukkan tuahnya saat perseroan mengumumkan laba bersih pada semester pertama 2016 sebesar Rp4,37 triliun. Angka ini melonjak 79,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan laba bersih tersebut, terutama didorong oleh penyaluran kredit yang memang digenjot dan diperbaiki kualitasnya. 
 
Peningkatan laba bersih seiring dengan terdongkraknya pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 11,7% menjadi Rp13,9 triliun. Hal ini terjadi karena realisasi penyaluran kredit BNI hingga akhir Juni 2016 tumbuh 23,7%,dari Rp288,72 triliun jadi Rp357,22 triliun. Sedangkan, pendapatan nonbunga terkerek dari Rp 3,44 triliun menjadi Rp 4,43 triliun, alias naik 28,7%. 
 
Kinclongnya strategi dan program yang digariskan Rizal Ramli pada kinerja BNI juga tergambar pada posisi total aset perseroan. Sampai Juni 2016, asetnya mencapai Rp 539,14 triliun atau tumbuh 25,1% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan aset tersebut merupakan berkah dari naiknya dana pihak ketiga yang mencapai 19,6% dan deposit dari bank lain yang naik 28,6%. 
Selain tangan dingin  dan kiclongnya strategi serta program yang digariskan Rizal Ramli sehingga laba bersih meningkat dan kinerja membaik,  juga didukung oleh direksi-direksi yang bagus-bagus dan sangat kompak. 
 
Oleh : Edy Mulyadi*)
 
*)Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)
 
 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats