Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 04 Juli 2017 07:49 WIB

Tarif Taksi Online Selangit, Makan Korban Seorang Jurnalis Media Online

Jakarta, HanTer - Seorang wartawan media online terkenal, Toni Riyanto (38), mengaku menjadi korban tarif gila-gilaan seorang driver taksi berbasis aplikasi, Uber. Dia dipaksa driver membayar Rp 445.000, padahal tarif yang tercantum di awal perjalanan hanya Rp 100.933.
 
Kejadian bermula, pada Kamis (29/6/2017) lalu, saat Toni memesan Uber XL dari Jalan Haji Sidan, Kelurahan Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur menuju Perumahan Bumi Bekasi Baru, Jalan Borneo Selatan IV, Bekasi, Jawa Barat.
 
Saat pemesanan tertera tarif yang harus dibayar sebesar Rp 100.933. Toni yang bersama istri dan dua anaknya mendapatkan kendaraan dengan pengemudi Anton Triwibowo. Kendaraan yang digunakan berbeda dengan yang semestinya dipakai.
 
"Harusnya Avanza sesuai yang tertera di aplikasi, tapi driver pakai Xenia," kata Toni melalui pesan elektroniknya, Senin (3/7/2017).
 
Pengemudi berdalih kendaraan yang semestinya digunakan sedang masuk bengkel. Merasa kasihan, Toni pun memaklumi dan tetap menggunakan jasanya.
 
Perjalanan dimulai tanpa hambatan, lancar dan tanpa macet. Tapi sungguh diluar dugaan. Karena setibanya di tujuan, Tony diminta membayar Rp 445.000 oleh driver (pengemudi) yang juga meminta diberikan bintang 5. 
 
"Harga segitu tidak masuk akal. Karena jarak tempuh yang hanya sekitar 16 kilometer berubah menjadi 117,51 kilometer," keluh Toni.
 
"Tadinya, saya berpikir untuk membayar sesuai tarif tertera sebelum perjalanan dimulai senilai Rp 101.000, meski ini bisa berpotensi keributan," lanjut Toni.
 
Akhirnya Toni menuruti saja permintaan sopir itu. Sebab dia khawatir akan berujung keributan serta berdampak buruk untuk anak dan istrinya.
 
"Saya berkeyakinan, masalah ini bisa diselesaikan dengan melapor ke pihak Uber. Nyatanya, setelah melapor sejak 29 Juni lalu, hingga hari ini tidak ada respons menggembirakan dari pihak Uber," papar Toni.
 
Bahkan, Toni baru mengetahui apabila seluruh keluhan hanya bisa disampaikan dan dijawab melalui e-mail dan menu bantuan pada aplikasi. Tidak ada nomor contact center atau layanan pelanggan.
 
Menurut Toni, kalau pihak Uber bekerja profesional, tentu hal ini tidak perlu terjadi. Sebagai usaha taksi berbasis aplikasi berlevel internasional, semestinya Uber mampu memberikan pelayanan lebih baik dan berorientasi pada keamanan, kenyamanan dan kepuasan pelanggan.
 
Selain itu, sopir atau mitra yang tidak baik harus ditindak tegas. 
 
"Pemerintah atau regulator seyogyanya juga melakukan pengawasan konkret agar masyarakat lebih terlindungi. Sehingga, bisa menggunakan moda transportasi pilihan dengan aman dan nyaman," pungkas Toni.
 
Oleh)  Bogiarto
 
Jurnalis Online
 
 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats