Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 25 Juli 2017 17:37 WIB

Kondisi Meprihatinkan, Ayo Selamatkan Candi Kidal

Malang, HanTer - Adanya kejadian penabrakan sebuah mobil ke Candi Kidal membuat keprihatian yang semakin mendalam.  Keamanan bangunan kokoh warisan leluhur kini telah nyata dalam ancaman. Peristiwa yang kurang bisa diterima oleh akal sehat tersebut adalah sasmita kepada kita bahwa perlu segera ada penanganan khusus terhadap warisan nenek moyang yang lama terbengkalai.
 
Keprihatinan demi keprihatinan bergelayut saat kita mengunjungi Candi Kidal. Keprihatinan pertama adalah tidak adanya perhatian khusus atas Candi yang menjadi inspirasi dirumuskannya Lambang Negara Garuda Pancasila tersebut oleh Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat.
 
Ketika kita memasuki area pintu masuk Candi kesan pertama yang timbul adalah ketidaknyamanan akibat bau kotoran ayam yang berasal dari kandang ayam di dekat kompleks Candi. 
 
Kesan kedua adalah tidak adanya sarana penunjang yang bisa digunakan oleh para pengunjung yang akan menikmati keindahan arsitektur kuno dan mempelajari kisah heroik yang terpahat dalam tiap panil relief di Candi Kidal. Jika musim hujan tiba tidak ada tempat yang bisa digunakan sekedar untuk berteduh. 
 
Bangunan-bangunan penunjang juga hampir tidak ada, kecuali sebuah pos jaga mini, papan informasi dan toilet yang serba sederhana pula.
 
Candi Kidal adalah satu-satunya Candi yang secara khusus menampilkan gambaran struktural ikonik relief Garudeya paling lengkap, yakni tiga buah panil relief sekaligus. 
 
Ketiganya merupakan panil-panil kunci dalam Wiracarita Garudeya yang bersumberkan pada Adiparwa, bagian awal dari kitab Mahabarata yang digubah pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh tahun 991-1016 M.
 
Dalam Penjelasan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 Tentang Lambang Negara, pasal (3) dijelaskan terkait nama Kidal dan beberapa Candi lainnya yang memiliki lukisan sosok yang rupanya seperti burung dengan berparuh panjang, berambut raksasa serta memiliki cakar sebagai burung Garuda yang tergambarkan secara mythologis.
 
Burung Garuda, yang digantungi perisai itu ialah lambang tenaga pembangun (creatif vermogen) seperti dikenal dalam peradaban Indonesia. Burung Garuda dari mythologi menurut perasaan Indonesia berdekatan dengan burung elang rajawali. Artinya Lambang Negara Garuda Pancasila merupakan asli perasan dari tradisi luhur bangsa Nusantara sendiri, bukan menjiplak lambang-lambang dari negara lain.
 
Kidal adalah sebuah  candi yang merupakan pelopor arsitektur langgam Jawa Timuran yang berbentuk ramping dan tinggi, melambangkan karakter ala Singhasari yang progresif, dinamis, dialektis dan egaliter namun tetap menjunjung tinggi olah cita dan olah rasa. Kidal adalah sebuah candi yang menjadi rujukan seni kuda lumping atau jaran kepang langgam Kidalan, sebuah kesenian yang lahir dari rahim kuasa jelata. 
 
Kidal menjadi simbol persatuan nasional era Singhasari mengingat adanya unsur Waisnawa, Syiwa dan Buddha sekaligus dalam candi tersebut. Unsur Waisnawa diwakili oleh relief Garudeya, dimana Garuda merupakan wahana dari Sri Batara Wisnu. Unsur Syiwa diwakili oleh lingga yoni dan figur Anusapati yang diarcakan sebagai Syiwa. 
 
Unsur Buddha tergambar dalam Negarakretagama pupuh 41 bait 1 yang menyebutkan bahwa Anusapati kembali ke Syiwabuddhaloka, yang dapat ditafsirkan bahwa Kidal juga mengayomi penganut ajaran Buddha.
 
Atap candi tersusun atas tiga tingkat dengan bagian sebelah atas memiliki permukaan yang cukup luas tanpa adanya hiasan atap seperti ratna (ciri khas candi Hindu)  ataupun stupa (ciri khas candi Budha). 
Hal ini menunjukkan bahwa Kidal memang dibangun sebagai monumen persatuan nasional rakyat Singhasari.
 
Cara membaca relief Garudeya di Candi Kidal adalah dengan cara _prasyawiya_ (berlawanan dengan arah jarum jam). Tidak sama dengan kebanyakan candi yang membacanya dengan cara _pradaksina_ (sesuai arah jarum jam). Artinya candi tersebut memang dibuat untuk melawan arus kebiasaan yang ada pada waktu itu. Candi ini dibuat demi persatuan semua golongan, simbol toleransi antar umat beragama.
 
Candi Kidal yang dibangun masa Singasari tersebut kemudian menjadi rujukan bagi para pujangga Majapahit dalam melukiskan tradisi pusparagam dalam persatuan yang merupakan praktek sehari-hari dari sesanti _Bhinneka Tunggal Ika_ karya Mpu Tantular yang tertulis dalam Kakawin Sutasoma.
 
Menimbang berbagai kelebihan tersebut sudah sepantasnya bila status Candi Kidal dinaikkan menjadi Cagar Budaya Nasional. Demi menjaga keamanan bangunan candi serta membasiskan nilai-nilai pusparagam dalam persatuan yang merupakan ciri khas bangsa kita sejak dahulu kala.
 
Oleh) Cokro Wibowo Sumarsono
 
 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats