Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 08 Agustus 2017 12:37 WIB

TAJUK: Aksi Main Hakim Sendiri Jangan Terulang Lagi

“Apa pantas kalau orang mencuri amplifier itu dihukum mati? atau dibakar secara hidup-hidup? Apalagi yang menjadi korban bukan pencuri seperti yang dituduhkan? Itu sangat tidak adil.”  Inilah yang disampaikan sejumlah kalangan terkait kasus pembakaran di Babelan Bekasi.

Main hakim sendiri. Inilah yang dilakukan massa terhadap Muhammad Al Zahra alias Zoya (30). Zoya tewas setelah dibakar massa hidup-hidup karena disangka mencuri amplifier masjid.

Korban bukan hanya yang dibakar warga tetapi anak-istrinya pun kehilangan sosok Ayah tulang punggung keluarga. Kalau sudah begini, siapa yang mau tanggung jawab?

Aksi main hakim sudah berulang kali terjadi, namun pihak keamanan tidak mampu mengantisipasi kejadian ini. Menurut pengamat sosial Devie Rahmawati, faktor pemicunya adalah kemarahan dan ketidakadilan yang dirasakan sekelompok orang.

Tindakan massa yang main hakim sendiri juga dipandang sebagai bentuk ketidakpercayaan warga terhadap polisi. Kriminolog dari Universitas Indonesia Muhammad Mustafa menilai aksi warga yang membakar pelaku kejahatan karena masyarakat dihadapkan pada masa transisi dengan ketidakpastian hukum. Salah satu contohnya adalah penegakan hukum pelanggaran lalu lintas lemah dan tak ada upaya konstruktif untuk memperbaiki hal itu.

Imdadun Rahmat yang merupakan Komisioner Komnas HAM menilai sungguh sangat kejam aksi main hakim sendiri itu. Menghukum seseorang itu harus melalui proses pengadilan. Warga dan siapapun tidak berhak atau tidak ada kuasa untuk menghukum terduga pencuri dengan caranya sendiri atau aksi main hakim sendiri.

Jadi, seharusnya, warga menyerahkan Zoya kepada aparat penegak hukum jika ia diduga telah mencuri. Apapun hukuman yang diberikan oleh pengadilan, tentu kita semua harus menghormati proses peradilan.

Berbagai kalangan mengecam aksi pembakaran Zoya. Warga  pun menuangkan rasa solidaritasnya melalui pemberian tanda tangan di atas banner untuk membantu dan memberikan semangat kepada keluarga Zoya. Warga menyuarakan agar keadilan bisa ditegakkan, pelakunya (pembakaran MA) bisa ditangkap, dan dihukum.

Kapolres Bekasi Kabupaten, Komisaris Besar Polisi Asep Adi Saputra menyayangkan adanya peristiwa main hakim sendiri yang menimbulkan korban nyawa seperti yang terjadi dalam kasus pengeroyokan dan pembakaran terhadap Zoya itu. Asep menyatakan, masyarakat yang main hakim sendiri bisa juga dipidana karena perbuatannya itu.

Kasus di Bekasi ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Masyarakat hendaknya tidak langsung mengambil tindakan sendiri ketika mendapati kasus kejahatan di lapangan, mengingat ada aparat penegak hukum yang punya tanggung jawab untuk menangani kasus tersebut.  Apalagi, dalam proses hukum di Indonesia selalu menjunjung asas praduga tak bersalah.

Semua pihak mendesak agar Polri mengusut tuntas kasus tersebut. Semua yang terlibat harus diproses hukum. Mereka harus dihukum, karena mereka telah melakukan tindakan main hakim sendiri. Hal itu menjadi sangat penting agar tidak boleh lagi ada kasus main hakim sendiri.

Untuk mencegah berulangnya kasus main hakim sendiri berbagai kalangan meminta polisi harus lebih aktif berpatroli menjaga keamanan jalan dan lokasi berpotensi terjadi tindak kriminalitas. Selain itu, pemerintah daerah harus memastikan ketersediaan fasilitas keamanan dan kenyamanan warga, seperti lampu penerangan jalan.

Harapan kita hendaknya, aksi massa yang melakukan penghakiman ini menjadi yang terakhir karena itu semua warga negara bangsa harus menggunakan asas praduga tak bersalah. Disisi lain masyarakat jangan melakukan kekerasan dan tindakan kriminalitas dalam menyelesaikan masalah.

 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats