Di Publish Pada Tanggal : Minggu, 03 September 2017 10:29 WIB

TAJUK: Duka Rohingya, Anak-anak Juga Dibantai

Pembantaian terhadap etnis Rohingya oleh militer Myanmar dikecam berbagai pihak termasuk para pegiat HAM internasional. Mereka juga mempertanyakan soal posisi pemimpin Partai Demokrasi terbesar Myanmar, Aung San Suu Kyi yang merupakan peraih Nobel Perdamaian. 
 
Aung San Suu Kyi selama ini dikenal sebagai pembela demokrasi dan pejuang HAM yang bahkan pernah ditahan oleh Junta Militer Myanmar selama bertahun-tahun. Para pegiat HAM justru mendesak agar pemberian Nobel kepada Aung San Suu Kyi dicopot, karena dia dituduh beberapa kritikus Barat tidak bersuara terhadap kejadian pembantaian Muslim Rohingya, yang merupakan kaum minoritas di Myanmar, oleh serangan brutal militer setelah terjadinya penyerangan Oktober. Padahal dia dinilai mempunyai posisi tawar secara politik di Myanmar.
 
Seperti Dilansir laman Guardian, 38 ribu warga Rohingya telah keluar dari Rakhine dan sebagian mereka masih terlunta-lunta. Dilaporkan bahwa setidaknya 400 orang Rohingya dibantai dengan senjata oleh militer dan kelompok garis keras kaum Buddha setempat.
 
Sementara laporan PBB menyebutkan ada sekira 20 ribu etnis Rohingya yang pada saat ini terlunta-lunta dan tidak diperbolehkan masuk ke wilayah negara-negara yang mereka tuju.
 
Dari ratusan korban itu yang paling menyedihkan dan sangat terkutuk adalah pembantaian terhadap anak-anak. Penjaga perbatasan Bangladesh hari ini menemukan 20 jenazah wanita dan anak-anak Rohingya akibat perahu yang mereka tumpangi tenggelam saat mengungsi guna menghindari kekerasan di Myanmar.
 
Jenazah dua wanita dan dua anak-anak Rohingya juga ditemukan Rabu kemarin setelah perahu mereka ditembaki polisi perbatasan Myanmar, kata Islam. 
 
Karuan saja tindakan biadab militer Myanmar itu mendapat kecaman dunia intrnasional, terutama aktivis Islam dan pegiat HAM. Mereka mendesak ASEAN agar menendang keluar negara pembantai kaum Muslim Rohingya.   
 
Selain itu juga mendesak agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara bersungguh-sungguh mengusut tragedi kemanusiaan dan meminta Mahkamah Kejahatan Internasional mengadili pihak-pihak yang bertanggung jawab atas praktik genosida terhadap etnis rohingya. 
 
Di Indonesia para pendemo meminta pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas sebagai negara terbesar di ASEAN. Untuk tahap awal, mereka meminta untuk mengusir Duta Besar Myanmar dari Indonesia. Selain itu, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia juga harus ikut ambil bagian untuk menyelamatkan etnis Rohingya. 
 
Mesti demikian, kita mengapresiasi Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi ang meluncurkan program Bantuan Kemanusiaan untuk Komunitas yang Berkelanjutan (HASCO) yang diprakarsai Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) untuk  masyarakat negara bagian Rakhine di mana kebanyakan minoritas Rohingya berdomisili.
 
Bantuan kemanusiaan sejumlah 2 juta dolar AS yang berasal dari donasi masyarakat Indonesia ini akan disalurkan dalam program-program sosial selama dua tahun dengan empat fokus yakni pendidikan, kesehatan, mata pencaharian, dan pemulihan pascakonflik. 
 
Kita berharap agar PBB menyikapi masalah ini dan turun tangan untuk menghentikan tragedi kemanusiaan etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar.
 
Negara-negara Barat dan negara-negara Islam juga bisa melakukan aksi militer di Myanmar karena mereka melanggar hak asasi mansia, bahkan bisa disebut sebagai pembunuhan massal sehingga tidak bisa dibiarkan. 
 
Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan kematian ratusan orang Rohingya di Myanmar selama sepekan terakhir merupakan genosida yang ditujukan ke komunitas Muslim di kawasan itu.
 
"Telah terjadi genosida di sana. Mereka tetap diam terhadap ini... Semua yang melihat dari jauh genosida ini dilakukan di bawah kerudung demokrasi juga bagian dari pembunuhan massal ini," kata Erdogan pada perayaan Idul Adha yang diadakan Partai AK di Istanbul. 
 
Tragedi kemanusiaan yang menimpa saudara-saudara kita etnis Rohingya di Myanmar menyita perhatian dunia Internasional. Bukan kali ini saja, militer Myanmar telah melakukan tindakan brutal terhadap etnis minoritas tersebut sejak beberapa tahun terakhir. 
 
Sebagai bagian dari bangsa yang menjunjung tinggi harkat kemanusiaan dan perdamaian dunia, Indonesia perlu memberikan pernyataan dan bersikap tegas untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan tersebut, baik melalui PBB maupun ASEAN. Hal ini karena hanya Indonesia yang berpotensi mempelopori penyelesaikan masalah ini, karena posisinya yang cenderung netral dalam kancah geopolitik di kawasan ASEAN. 
 
Kita menyerukan kepada pemerintah Myanmar dan berbagai negara lain yang memiliki kepentingan ekonomi di Myanmar untuk lebih menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas kepentingan ekonomi dan penguasaan sumberdaya alam. Hanya dengan mengedepankan harkat kemanusiaan, Myanmar dapat terhindar "kutukan sumberdaya alam" yang mengorbankan rakyatnya.
 
Kita mengajak semua komponen bangsa dan dunia internasional untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan dalam rangka meringankan beban dan penderitaan saudara-saudara kita Rohingya. Diperlukan sinergi lintas-organisasi dan lintas-negara untuk melancarkan misi kemanusiaan bagi korban tragedi kemanusiaan Rohingya.
 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats