Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 07 September 2017 11:32 WIB

Kalian Sudah Paham?

Oleh Edy Mulyadi
 
Si Banu dan kawan-kawannya setiap hari menyiksa si Badu. Dipukul, ditendang, dijambak, disetrum, ditusuk pisau, dibacok, disayat, diseret sepanjang jalan, dimutilasi hidup-hidup, dibakar hidup-hidup, dan lainnya. Pokoknya sempurna kekejamannya.

Bukan itu saja. Si Banu juga menyiksa anak, istri, orang tua, dan mertua si Badu. Istri dan anak perempuan si Badu diperkosa beramai-ramai di depan keluarganya. Mereka juga disiksa secara fisik dengan siksaan yang tak terperi. Bahkan perut istri Badu yang tengah hamil, dibelah dengan pedang dan janin yang dikandungnya dicincang-cincang. Anak-anak laki-lakinya mengalami nasib yang sama dengan bapaknya.

Rumah keluarga Badu dirusak, dihancurkan, dibakar. Harta bendanya dirampas. Keluarga Badu diusir. Sepanjang perjalanan terus mengalami beragam siksaan. Kekejian ini bukan baru sehari, seminggu, atau sebulan. Tapi berlangsung selama bertahun-tahun, bebelas tahun, bahkan berpuluh tahun.

Awalnya orang-orang tidak banyak peduli. Tapi, ketika kekejaman dianggap mencapai puncaknya dan mengusik rasa kemanusiaan, orang-orang yang mulai bersuara. Ada yang bilang kasihan si Badu. Ada yang menyarankan agar keluarga Badu sabar. Ada yang berdoa. Ada juga, tapi tidak sedikit, yang mengecam si Banu dan kawan-kawan. Mereka minta para penyiksa menghentikan perbuatan bidabnya.

Sebagian lain mulai memberi bantuan. Meskipun sulit dan dihalang-halangi Badu dan kelompoknya, obat-obatan, makanan, pakaian, selimut, dan lainnya akhirnya bisa disalurkan. Alhamdulillah. Badu dan keluarga bisa sedikit makan. Luka-luka mereka diobati, diberi obat merah, diperban. Tulang-tulang yang patah dan hancur diberi obat pengurang nyeri.

Tapi, besoknya, Badu dan gerombolannya datang lagi. Mereka kembali melakukan penyiksaan serupa, bahkan lebih kejam lagi. Alasannya, kekejaman mereka jadi diketahui publik. Balita disetrum, bayi diikat lehernya, diseret-seret dan gantung, serta bermacam tindakan biadab lainnya.

Orang-orang mengecam lagi. Sebagian lain kembali mencoba mengirimkan bantuan. Tapi, tidak sedikit juga yang menyalahkan Badu dan keluarganya. Alasannya, saat dipukuli mata Badu memandang penyiksanya dengan marah. Akibatnya si penyiksa semakin beringas.
Orang-orang itu bilang, “Kamu si Badu, coba jangan melotot. Kamu jangan melawan apalagi mulai mencari kerikil, batu, pentungan atau apa saja untuk melawan. Begitulah akibatnya, si Banu dan kawan-kawannya semakin marah dan semakin kejam menyiksa kamu dan keluargamu. Sudahlah, diam saja. Pasrah saja. Jangan melawan. Sabar!”

Begitulah kejadiannya. Terus berulang dan berulang terus. Terus berulang di mana-mana. Di mana-mana terus berulang. Berulang-ulang berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun, belasan tahun, puluhan tahun. Ratusan tahun!

Dari bermacam komentar dan sikap orang banyak tadi, tidak ada satu pun yang MENAHAN TANGAN si Banu dan gerombolannya. Tidak satu pun yang MEMERINTAHKAN DAN MENGANCAM si Banu dan gengnya untuk berhenti menyiksa Badu dan keluarganya. Tidak ada satu pun yang MEMUKUL DAN MENGHAJAR Banu dan kelompoknya agar berhenti menyiksa Badu dan keluarganya. Jangan lagi kalian berharap ada sekelompok orang yang MEMBUNUH SI BANU dan gerombolannya agar penyiksaan biadab yang sudah berlangsung puluhan tahun berhenti. Tidak ada. Tidak ada!

Begitulah Rohingya. Begitulah Palestina. Begitulah Afghanistan, Irak, Suriah, Uigur, Tolikara, dan lainnya. Begitulah yang dialami kaum MUSLIM di banyak negeri. Begitulah yang dialami ummat Muhammad SAW, terutama ketika menjadi MINORITAS di negerinya.
Rabin-Sharon-dan para jagal di Israel tetap aman dan terus menyiksa warga Palestina. Biksu Wirathu di Myanmar terus membantai muslim sambil memasang wajah dingin di sampul majalah TIME, Suu Kyi tetap mendekap erat hadiah nobel perdamaiannya sambil menutup mata dan telinga serta membisu, Bashar di Suriah tetap sejahter sambil terus menghabisi rakyatnya yang muslim, muslim Uighur di China terus dijagal, dan lainnya, dan lainnya.

Begitulah dunia. Mereka diam, menutup mata dan telinga. Mereka hanya mengimbau, paling banter mengecam sambil mengirimkan bantuan ala kadarnya. Tidak ada yang bertindak dengan langkah konkret. Tidak ada yang mengirimkan tentara dan pasukan untuk menghentikan kebiadaban dengan cara memerangi para penyiksa.

Kenapa? Karena yang menjadi KORBAN ADALAH MUSLIM, UMMAT ISLAM. Setiap hari ratusan bom dijatuhkan di Palestina, di Irak, di Suriah, dan di negeri-negeri berpenghuni muslim. Setiap hari puluhan bahkan ratusan nyawa muslim mati. Tapi, dunia diam. Dunia buta dan tuli.

Tapi coba tengok, apa yang terjadi kalau ada SATU SAJA, YA SATU SAJA KAFIR TEWAS. Seluruh dunia berteriak, berisik, bising, membahana. Seorang Pendeta ditusuk di Ciketing, Bekasi, Hillary Clinton berteriak Capitol Hill. Pengelola Charllie Hebdo, tabloid yang berkali-kali membuat kartun melecehkan Nabi dan Islam, dibunuh dunia berduka dan marah besar. Tiga peserta maraton di Boston jadi korban bom, dunia murka bukan alang kepalang.

Kenapa? Karena korbannya adalah orang KAFIR. Kenapa? Karena pelakunya DIDUGA ummat Islam. Muslim dibantai, apa pedulinya dunia? Muslim membela diri dan melawan seketika stigma teroris, radikalis, fundamentalis langsung disematkan! Begitulah dunia!

Sampai di sini KALIAN SUDAH PAHAM?
***
Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah. Tapi Allah tetap menyempurnakan cahaya (agama)Nya.” (TQS Ash Shaf 61: 8) “Yahudi dan Nashrani tidak akan suka kepada kamu, sampai kamu mengikuti millah mereka...” (TQS Al Baqoroh 2: 120)

“…Telah nyata kebencian dari mulut-mulut mereka. Tapi apa yang tersembunyi di hati mereka, jauh lebih besar lagi…” (TQS Ali Imron 3: 118)

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, sebab sesungguhnya mereka itu telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa menolong mereka, yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: Tuhan kami adalah Allah.” (TQS Al Hajj 22: 39-40)

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (TQS Al Hujurat 49: 10)

“Dan orang-orang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah (saling melindungi sesama muslim), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.” (TQS Al Anfal 8:73).

“Kedudukan persaudaraan dan perasaan orang-orang beriman antara satu dengan lain seperti satu tubuh (jasad). Bila satu dari bagian sakit, maka akan berpengaruh kepada seluruh tubuh.” (THR Bukhari dan Muslim)

Akhirnya, KALIAN SUDAH PAHAM?

Edy Mulyadi, seorang muslim yang baru bisa menangis dan berdoa (ampuni kami ya Allah…)

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats