Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 12 September 2017 08:47 WIB

TAJUK: Derita Pasien Miskin Tak Dapat Layanan Kesehatan

ADA apa dengan rumah sakit kita? Kenapa masih ada saja yang menolak dan menelantarkan pasien miskin? Meski tak semua rumah sakit melakukan hal tersebut, yang jelas kasus-kasus penelantaran masih mewarnai dunia kesehatan di negeri ini.

Kasus kematian bayi Tiara Debora Simanjorang yang meninggal karena diduga akibat ditelantarkan RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat, semakin membuktikan masih ada pasien miskin yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik.

Kasus bayi Debora mengundang perhatian berbagai kalangan.  Mereka mendesak kepolisian untuk menyelidiki dokter dan petugas rumah sakit yang menolak bayi Debora yang meninggal, diduga karena tidak segera mendapatkan perawatan darurat oleh RS Mitra Keluarga.

Sebenarnya tidak ada alasan bagi rumah sakit manapun menolak pasien dalam keadaan darurat. Rumah sakit wajib melayani, seperti tertuang dalam pPeraturan Presiden no. 12/2013 Tentang JKN. Khususnya pada Pasal 25 point B, Pasal 33, dan Pasal 40. Serta didukung oleh Pasal 29 Peraturan Menteri Kesehatan No. 71/2013 dan Surat Edaran Nomor HK/Menkes/31/I/2014. 

Bayi Debora meninggal pada Minggu, 3 September 2017 diduga karena terlambat mendapat pertolongan dari RS Mitra Keluarga Kalideres. Pihak rumah sakit tidak membiarkan Debora mendapat fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU) karena orangtuanya tidak mampu membayar secara penuh. Rumah Sakit Mitra Keluarga juga beralasan pihaknya tidak menerima pasien BPJS.

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat akan mengevaluasi izin RS Mitra Keluarga bila terbukti melakukan kesalahan prosedur. Djarot mengatakan, kalau benar pasien tidak ditangani secara maksimal, dia meminta rumah sakit itu dievaluasi kembali izinnya.

Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia, Marius Wijayarta, menilai kasus-kasus penolakan rumah sakit di Ibu Kota terhadap pasien dari kalangan masyarakat tidak mampu merupakan dampak dari buruknya sistem penganggaran kesehatan dan jaminan sosial selama ini. “Dari pusat sampai ke daerah kacau-balau,” ujarnya.

Meninggalnya bayi Debora, makin menunjukkan ironi rumah sakit yang seharusnya dikelola dengan basis kemanusiaan dan tolong menolong, tetapi justru dikelola dengan basis komersial.  

Tak salah bila publik menilai, rumah sakit yang menelantarkan pasien tak punya rasa kemanusiaan, lebih mengutamakan aspek komersil. Pengelola hanya mengutamakan keuntungan dari bisnis rumah sakit ketimbang rasa kemanusiaan.

Kita tak boleh membiarkan rumah sakit yang tidak punya rasa kemanusiaan hidup di negeri ini. Pengelolanya harus diberikan sanksi dan sangat tepat jika izin rumah sakit tersebut dicabut.

Presiden Joko Widodo sering mengatakan akan menindak tegas rumah sakit yang menolak atau memperlakukan pasien ataupun lainnya dengan tidak adil. Sangat disayangkan bahwa masih ada saja rumah sakit, berikut oknum dokter ataupun perawat, dan mungkin oknum dewan direksi rumah sakit yang masih mempermainkan pasien miskin.

Sudah seringkali masyarakat tidak mampu melaporkan adanya penolakan dari pihak rumah sakit untuk memberikan pengobatan. Padahal tugas utama pengelola rumah sakit adalah memberikan pertolongan kepada siapapun yang membutuhkannya. Dalam situasi darurat, siapapun kita harus menanggalkan segala macam batasan yang mengikat dan segera menolong sesama kita yang membutuhkan pertolongan, siapapun orangnya, baik kaya maupun miskin.

Derita warga miskin yang sakit dan mendapatkan perlakuan diskriminatif dari rumah sakit terus terjadi. Tak heran bila diranah publik berkembang opini yang menyebut orang miskin masih menjadi anak tiri dalam memperoleh pelayanan kesehatan.

Sekali lagi kita mengingatkan, rumah sakit adalah bagian dari pelayanan dasar kesehatan masyarakat. Orang telantar/kaum miskin hingga pejabat negara harus mendapat pelayanan yang sama.

Supaya ada efek jera, saatnya pemerintah bertindak tegas jika rumah sakit tersebut terbukti menelantarkan pasien.

Publik berharap agar semua rumah sakit mendahulukan prosedur penyelamatan pasien tanpa memandang persoalan administrasi. Tanpa melihat ada uang atau tidak. Tunjukkanlah rasa kemanusiaan mu.

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats