Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 14 September 2017 13:53 WIB

TAJUK: Kekeringan, Krisis Air Bersih dan Ancaman Kelaparan

MUSIM kemarau melanda beberapa wilayah di Indeonesia, utamanya di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Akibatnya, masyarakat di wilayah itu krisis air bersih. Para petani tidak bisa bercocok tanam akibat tidak air untuk mengairi sawah mereka. Jika tak segera diatasi, kita mengkhawatirkan kemiskinan dan kelaparan melanda di sejumlah daerah.

Berdasarkan data sementara yang dihimpun Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat sekitar 105 kabupaten/kota, 715 kecamatan, serta 2.726 kelurahan/desa di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara mengalami kekeringan akibat musim kemarau normal 2017. 

Saat ini, sekitar 3,9 juta jiwa masyarakat terdampak kekeringan sehinga memerlukan bantuan air bersih. Kekeringan juga melanda sekitar 56.334 hektar lahan pertanian, sehingga 18.516 hektar lahan pertanian mengalami gagal panen.

Menurut BMKG, awal musim hujan baru akan melanda  sebagian besar Pulau Jawa mulai akhir Oktober - November 2017 sebanyak 260 zona musim (76%) dan mengalami puncak musim hujan pada Desember 2017-Februari 2018.

Untuk mencegah kekeringan dan krisis air bersih, Pemerintahan Jokowi telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, khususnya Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Langkah jangka pendek yang dilakukan, Presiden meminta para menteri dan kepala daerah untuk memastikan bantuan dropping air bersih bagi masyarakat yang terkena dampak kekeringan. Juga mengecek suplai air untuk irigasi pertanian yang sangat dibutuhkan terutama untuk mengairi lahan-lahan pertanian di daerah-daerah yang terdampak.

Sedangkan langkah jangka panjang adalah memfungsikan berbagai bendungan, waduk dan embung yang sudah dibangun dalam dua tahun terakhir, yang memang dipersiapkan untuk menghadapi situasi kekeringan.  

Kita mengapresiasi upaya pemerintah untuk mencegah kekeringan dan krisis air bersih. Ke depannya, kita berharap pemerintah pusat dan daerah untuk menyelesaikan pembangunan sumur bor, pembangunan perpipaan, pemanenan hujan, pembangunan embung, bendung dan waduk, dan bentuk lainnya. Lewat cara ini musim kering yang terus terjadi setiap tahunnya tidak berdampak terlalu parah bagi masyarakat.

Selain itu, para aktivis lingkungan meminta semua pihak, terutama masyarakat untuk bisa menjaga lingkungan, terutama menjaga air. Peran serta masyarakat dalam menjaga air di wilayahnya sangat dibutuhkan dan merupakan hal yang penting mengingat hal tersebut merupakan salah satu bentuk atau langkah pencegahan aktif jika ada musim kemarau berkepanjangan. Dalam kondisi ini masyarakat juga harus menghemat air.

Kekeringan yang melanda negeri ini bukan persoalan baru. Hampir tiap tahun kekeringan selalu berulang. Para pengamat menyatakan, kekeringan bisa diatasi jika pemerintah mampu melakukan manajemen air yang baik sehingga kalau musim hujan banjir, ketika musim kering, kekeringan dan kebakaran hutan.

Menghindari kejadian serupa tidak terulang di masa depan, pemerintah harus merumuskan strategi jangka panjang. Rencana pemerintah menggenjot pembangunan belasan waduk baru dan embung-tempat penampungan air saat musim hujan-harus diikuti upaya meningkatkan manajemen dan pengelolaan air.

Apapun alasannya, pemerintah pusat, daerah dan lembaga-lembaga terkait harus melakukan segala cara agar kekeringan bisa diatasi sehingga tidak mengorbankan masyarakat. Supaya petani tidak lagi kekurangan air sehingga mereka bisa bercocok tanam. Jika petani tidak menanam padi, dikhawatirkan mereka semakin jatuh miskin, bahkan menderita kelaparan.

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats