Di Publish Pada Tanggal : Senin, 25 September 2017 11:10 WIB

Tajuk: Membantu Pengungsi Gunung Agung

Jumlah pengungsi Gunung Agung terus bertambah, hingga saat ini tercatat 34.931 jiwa. Mereka mengungsi disejumlah tempat aman yang berada di 238 titik pengungsian yang tersebar ditujuh kabupaten/kota di Bali.

Berdasarkan pendataan Pusdalops BPBD Provinsi Bali memprediksi sebagian masyarakat Karangasem dan terdampak KRB mengungsi keluar Pulau Bali. 

Dari data 238 titik pengungsian tersebar di Kabupaten Badung sebanyak tiga titik dengan jumlah pengungsi 328 jiwa, Kabupaten Bangli 23 titik (2.883 jiwa).

Kabupaten Buleleng 13 titik (4.649 jiwa), Kabupaten Denpasar lima titik (297 jiwa), Kabupaten Giayar 12 titik (161 jiwa), Kabupaten Karangasem 81 titik (15.129 jiwa) dan Kabupaten Klungkung 101 titik (11.484 jiwa). 

Bantuan untuk pengungsi terus diberikan. BNPB pada Minggu (24/9) mengirimkan kembali bantuan seberat 14 ton berupa lima unit sirine mobile iRADITIF Telehouse (seberat lima ton), 50 tenda pengungsi, 300 tenda keluarga, 3.400 lembar selimut, 2.570 matras, alat komunikasi berupa radio codan, ACCU 1000, handy talky, genset portable dan alat SMS broadcast yang dibawa dari Lanud Halim Perdanakusuma.

BNPB menyebut, aktivitas vulkanik dan kegempaan Gunung Agung masih tinggi, dimana timbul asap kawah putih sedang dengan ketinggian 200 meter. Pergerakan magma di dapur magma mendesak batuan masih terus berlangsung. Hingga saat ini Gunung Agung belum meletus. 

Kita berharap berbagai kalangan terutama media sosial tidak ikut membuat informasi-informasi yang semakin membuat masyarakat di Bali kalang kabut.  Seperti beredarnya foto,video dan pemberitahuan yang menyesatkan. 

Di saat ribuan masyarakat sekitar Gunung Agung sedang menderita dan harus mengungsi, mari kita saling membantu. Saling menolong. Rasa gotong royong, toleransi dan nilai-nilai budaya Indonesia kita berikan kepada saudara-saudara kita yang sedang mengungsi dari potensi meletusnya Gunung Agung.  Jangan justru menyebarkan informasi yang menyesatkan.

Meningkatnya aktivitas Gunung Agung ini tentu merugikan masyarakat. Masyarakat sekitar gunung mencari selamat, mengungsi. Lahan pertanian dan perkebunan tertutup abu, dan tentu saja akan merugikan petani. Anak-anak tidak bisa sekolah. Pegawai dan karyawan tidak bisa bekerja.   

Yang namanya bencana, tentu tidak kita inginkan.  

Semoga Gunung Agung tidak meletus agar masyarakat bisa melakukan aktivitas sehari-harinya kembali.

Saat ini yang perlu segera kita lakukan adalah menyelamatkan warga yang masih berada di daerah rawan,  membantu saudara-saudara kita di pengungsian dengan mendirikan Posko, makanan, pengobatan, dan bantuan psikologis kepada anak-anak. 

Bencana alam merugikan secara materi dan immaterial. Untuk mengurangi korban jiwa, kita harus belajar dari Jepang dalam mengatasi suatu bencana. Negeri ini cepat dan tanggap menangani tsunami yang dahsyat sehingga jumlah korban jiwa tidak besar, kerugian material juga kecil.  

Setiap bencana yang telah terjadi, harus kita jadikan pelajaran dan hikmahnya. ‘Tangan-tangan jahil’ yang merusak alam dan lingkungan haus dihentikan. Gerakan mencintai dan menjaga lingkungan harus terus digelorakan.

Semua bersatu dan bersama dengan semangat kemanusiaan untuk membantu saudara-saudara kita yang teertimpa musibah. Ayo kita ulurkan  tangan untuk memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita di Bali, terutama di pengungsian-pengungsian.

Negeri ini memang berada di wilayah rawan gempa. Maka, perlu ditingkatkan upaya penyelamatan diri dari warga negara sendiri.

Satu hal yang perlu diingat, perlunya mitigasi, upaya meminimalkan dampak bencana. Hal ini hanya mungkin jika kita cukup banyak melakukan simulasi menghadapi bencana, mengadakan latihan yang memadai, bagaimana penduduk harus bertindak jika ada sirine tanda bahaya.

Potensi gempa terus kita waspadai. Apalagi saat ini musim hujan belum berakhir. Diperlukan kewaspadaan akan potensi banjir dan longsor. Dalam kaitan ini, keterampilan penanggulangan bencana perlu kita asah sepanjang waktu. Tepat pesan Presiden Joko Widodo kepada Kepala BNPB untuk turun ke lapangan. Tentu ini dimaksudkan agar kondisi riil segera bisa diketahui.


 


 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats