Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 19 Oktober 2017 14:39 WIB

Rizal Ramli Dan Karomah Pesantren Gontor, Kisah Cinta Anak Muda Kepada Bangsanya (1)

Oleh Arief Gunawan, Wartawan Senior

Di Akhir tahun 60-an WS Rendra menulis satu artikel berjudul ‘’Latihan Sultan Hamengku Buwono I Di Masa Remaja’’.

Isinya tentang perjalanan hidup yang unik sang Sultan yang sewaktu muda bernama Raden Mas Sudjono.

Di masa muda Sudjono gemar sekali berjalan kaki mengarungi hutan, singgah di telaga, mengembara di sepanjang pantai, mendaki bukit-bukit kapur, dan mendaki Merapi.

Meskipun ia tergolong kaum cendikia dan dari kalangan bukan orang biasa Sudjono melakukan tourney tersebut sebagai rakyat jelata.

Di dalam perjalanan-perjalanan itu ia melakukan perenungan persoalan-persoalan yang dialami rakyat, persoalan-persoalan ketidakadilan, sambil menyatukan diri dengan alam, dan berdialog dengan para tokoh yang didatanginya termasuk dengan kalangan rakyat kecil, untuk bisa menghayati pergaulan yang spontan dengan masyarakat di desa-desa.

Karena sifatnya yang bersahaja dan dekat dengan rakyat Raden Mas Sudjono mendapat gelar Pangeran Mangkubumi yang akhirnya menjadi raja sebagai Sultan Hamengku Buwono I.

Di era yang sudah modern, di dalam konteks zaman yang sudah jauh berbeda, ternyata ada tokoh-tokoh muda pergerakan yang melakukan hal yang serupa. Melakukan perenungan dengan menempuh perjalanan-perjalanan untuk mencari jawaban atas persoalan-persoalan kebangsaan dan kerakyatan.

Soe Hok Gie menganggap menjelajahi alam dan mengarungi gunung-gunung sebagai latihan untuk menebalkan rasa cinta kepada tanah air. Sukarno di dalam masa pembuangannya merupakan pemuda yang mencintai alam, Panca Sila terinspirasi oleh alam, sehingga direnungkannya di bawah Pohon Sukun yang rindang dalam pembuangannya di Ende, Flores.

Sukarno menempuh perjalanan di Cigereleng, Bandung Selatan, dan bertemulah dia dengan seorang petani melarat bernama Marhaen. Konsepsi Sukarnoisme adalah alam dan manusia, yang disebutnya Marhaenisme.

Menyatu dengan alam, dengan rakyat kecil, dan bertukar pikiran dengan para tokoh adalah esensinya…

Rizal Ramli sebagai anak muda berusia 22 tahun pada tahun 1976 sepulang dari menjalani beasiswa di Jepang melakukan perenungan dengan melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa.

Waktu itu ia merenung dan bertanya-tanya mengapa Jepang dapat maju padahal miskin dengan sumber daya alam, mengapa bangsa dan negeri yang dicintainya yang sumber daya alamnya sangat berlimpah ini jauh tertinggal oleh bangsa-bangsa lain…

Rizal mendatangi banyak tempat, termasuk desa nelayan miskin di Tegal, merasakan melaut mencari ikan di tengah malam bersama sang nelayan dan anaknya. Makan nasi dengan lauk ikan teri yang cuma secuil, merasakan dingin sambil terombang-ambing di lautan lepas.

Rizal menempuh banyak perjalanan hingga di antara perjalanannya itu tinggallah ia di Pondok Pesanten Gontor yang merupakan lembaga pendidikan terkemuka bagi para santri dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara.

Sebuah pesantren dengan nama besar yang harum, dan bukan cerita baru lagi bahwa pesantren ini telah melahirkan banyak tokoh besar…

Di pesantren tempat para calon intelektual Muslim menjalani pendidikan itu Rizal Ramli bertakzim, sebagai anak muda intelek Rizal mendiskusikan berbagai persoalan kerakyatan dan kebangsaan. Rizal dapat merasakan betapa besar wibawa, karomah, dan pengaruh pendiri pondok pesantren tersebut, yakni tokoh trimurti yang terdiri dari KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi.

Rizal mondok dan nyantri di Gontor selama lebih dari satu minggu (karena sangat dinamis dan banyak tempat yang masih akan dikunjunginya). Namun manfaat dan pengaruh yang didapatkannya sangat besar, selain rasa kagumnya terhadap pondok pesantren tersebut karena antara lain mendidik para santri untuk hidup secara mandiri, percaya diri, dan memiliki kemampuan berorganisasi.

Sekembalinya dari Gontor dan dari tourney yang penuh dinamika itu Rizal seperti mendapatkan karomah dan keyakinan yang utuh terhadap kecintaannya kepada tanah air dan bangsa. Ia kemudian terinspirasi melakukan Gerakan Anti Kebodohan, karena pada tahun-tahun itu terdapat lebih dari delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan, persoalan-persoalan ketidakadilan, hingga persoalan korupsi rezim Soeharto.

Supaya persoalan-persoalan crusial tersebut membumi dan populer sehingga dapat dipahami masyarakat Rizal antara lain mengajak WS Rendra, Sjumandjaja, dan figur lainnya untuk berpartisipasi. Hasilnya adalah Undang-undang Wajib Belajar, meski untuk itu Rizal Ramli dikejar-kejar Soeharto dan dimasukkan ke dalam rumah tahanan militer dan penjara Sukamiskin.

Zaman bergerak, waktu terus menanjak, seperti sudah diketahui Rizal hingga kini merupakan tokoh pergerakan yang paling konsisten. Di luar maupun di dalam kekuasaan Rizal Ramli tetaplah Rajawali yang mendorong perubahan untuk bangsa dan negeri ini supaya menjadi lebih baik ketimbang hari ini.

Dan seperti yang dikatakan WS Rendra di dalam syairnya:

Kesadaran Adalah Matahari

Kesabaran Adalah Bumi

Keberanian Menjadi Cakrawala

Dan Perjuangan Adalah Pelaksanaan Kata-Kata...

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats