Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 09 November 2017 13:23 WIB

TAJUK: Menghentikan Kasus Bullying Anak di Sekolah

KITA akui saat ini terdapat kemajuan dalam perlindungan anak. Meski demikian, pelanggaran masih naik dari tahun ke tahun. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, pada pada 2015 ada 4.309 kasus dan pada 2016 ada 4.620 kasus.

Kasus bullying atau perundungan di satuan pendidikan juga marak. Baru-baru ini terjadi kasus perundungan berbau rasisme di SD Negeri Pekayon Jakarta Timur. Seorang siswa kelas 3 di SD dipanggil dan diolok-olok kawan-kawannya dengan panggilan "Ahok" dan "pribumi".

Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Kanti Herawati membenarkan hal tersebut. Menurutnya, kasus tersebut sudah ditangani polisi. Padahal sebelumnya pihak sekolah sudah melakukan mediasi antara orangtua pelaku dan orangtua korban, dan kasusnya dianggap selesai.

Sebelumnya juga terjadi kasus bullying atau perundungan dialami seorang siswi di pusat perbelanjaan Thamrin City, Jakarta Pusat, dan mahasiswa Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat.

Baik kepolisian maupun pihak kampus telah menindak para pelaku perundungan itu. Untuk kasus bullying siswi di Thamrin City, kini ditangani kepolisian, sedangkan perundungan mahasiswa ditangani pihak Gunadarma.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA) juga menyebutkan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah yang sering terjadi adalah corporal punishment (hukuman kekerasan dari guru) dan bullying. Corporal punishment adalah hukuman yang dilakukan oleh guru di sekolah terhadap siswa dengan menggunakan kekerasan. Hukuman itu diberikan dengan alasan hendak mendisiplinkan siswa.

Misalnya, guru kadang memukul tangan dengan penggaris, menjambak rambut karena terlalu panjang, atau menyuruh push up karena terlambat. Lalu, bullying atau perundungan merupakan perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan terhadap siswa lain yang lebih lemah. Perilaku itu bertujuan untuk menyakiti siswa tersebut. 

Untuk Indonesia, kasus perundungan biasanya terjadi di lingkungan pendidikan. Hasil Survei Kesehatan Berbasis Sekolah pada 2015 yang dilakukan Balitbang Kesehatan pada 5.090 siswa laki-laki dan 6.020 siswa perempuan di 75 sekolah di 26 provinsi di 68 kabupaten/kota, menunjukkan bahwa 19,9 persen siswa laki-laki dan 7,5 persen siswa perempuan pernah mengalami kekerasan dari gurunya.

Ditemukan sebanyak 20,6 persen siswa tersebut pernah mengalami perundungan. Dampak negatif terbesar dialami korban perundungan, antara lain gangguan prestasi belajar, membolos, depresi, bahkan bunuh diri.

Negara tak bisa diam atas kekerasan di dunia pendidikan ini, sebab menyangkut masa depan bangsa.  Korbannya adalah generasi muda yang bakal memimpin Indonesia kelak.

KPAI mendorong agar pemerintah dan semua pihak memastikan perlindungan, agar anak tidak terpapar pornografi, radikalisme, serta kejahatan berbasis siber.

Itulah sebabnya perundungan harus  dicegah dan pelakunya mesti diberi hukuman setimpal. Apabila ada guru yang terlibat dalam kasus perundungan juga harus diberikan sanksi, karena sebagai pendidik tak pantas melakukan hal tersebut.

Tentu saja peran orangtua sangat diperlukan dalam mencegah perundungan terhadap anak-anaknya. Orangtua harus selalu mengikuti dan mengetahui perkembangan anak setiap anak. Lakukan komunikasi dengan baik terhadap anak.

Selain itu, masyarakat agar tidak abai atas potensi pelanggaran anak di lingkungannya, karena kapanpun dan dimanapun kekerasan dapat terjadi.

Sekali lagi kita mengingatkan, maraknya kasus bully di satuan pendidikan perlu langkah preventif, antisipatif, dan rehabilitatif. Semua pihak meminta Mendikbud serius mencegah dan menanggulangi perundungan dan satuan pendidikan.

Tentu saja membangun budaya ramah anak sejak usia dini sangat diperlukan. Selain itu, pola pengasuhan positif perlu dikembangkan sebagai langkah preventif.

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats