Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 10 November 2017 05:07 WIB

TAJUK: Tidak KKN Makna Kepahlawanan Dalam Konteks kekinian

”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya,” kutipan dari pidato Presiden pertama RI, Soekarno, pada 10 November 1961 itu selalu bergaung kembali setiap 10 November, hari yang ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

Seiring dengan peringatan Hari Pahlawan, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional bagi sejumlah tokoh. Pemberian gelar itu penting karena menunjukkan kepedulian pemerintah kepada mereka yang telah berjasa kepada bangsa, negara dan masyarakat.

Saat ini pun kita masih membutuhkan tokoh yang disebut pahlawan. Tokoh yang akan memberikan suatu inspirasi dan motivasi untuk generasi muda dan yang memotivasi agar bangsa ini terus bangkit, terus melakukan perubahan untuk kesejahteraan rakyat.

Lalu pahlawan seperti apa yang kita perlukan saat ini. Di tengah masih banyaknya pengangguran dan kemiskinan di negeri tentu kita membutuhkan para pahlawan yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk mengentaskan kemiskinan.

Selain itu kita juga membutuhkan generasi-generasi baru yang cerdas yang bisa mengharukan nama bangsa ini di dunia internasional. Prestasi yang diraih di dunia internasional itu tentu akan menjadi morivasi bagi anak-anak muda untuk bangkit dan melakukan perubahan terhadap bangsa ini.

Negeri ini membutuhkan pahlawan-pahlawan dan kesatria untuk mengatasi keterpurukan negeri ini. kita membutuhkan kesatria yang piawai dalam teknologi komunikasi dan informasi. Negeri ini juga membutuhkan kesatria ekonomi yang mampu membangun usaha untuk mengembangkan usaha rakyat kecil.

Dan paling penting adalah pejabat-pejabat negara yang memiliki jiwa kepahlawan. Selain gagah dan berani, jujur berintegritas, mendahulukan kepentingan umum, berkorban untuk orang lain, bekerja untuk kepentingan rakyat, dan bersikap toleran.  Para pejabat negara yang tidak korupsi, tidak menerima suap, apalagi ikut mencegah terjadinya tindak pidana korupsi.

Dalam bentuk lain, para guru, paramedis (dokter)  yang rela mengabdi dan tidak mengeluh ketika dimutasi ke wilayah terpencil. Para guru dan dengan senang hati memberikan ilmunya sementara para dokter dengan ikhlas mengobati masyarakat miskin di daerah-daerah terluar dan terpencil yang sulit mendapatkan pelayanan kesehatan.

Para pemulung  yang  mendaur ulang  sampah  hasil produksi  orang gedungan, bisa juga disebut pahlawan. Begitu juga ara petani yang sepanjang hari menjemur diri  di tengah sawah dan ladangnya.

Wakil rakyat yang tidak meninggalkan pemilihnya dan tidak menerima suap layak disebut sebagai pahlawan rakyat.

Intinya, siapa pun anak bangsa yang mampu membantu orang lain dengan menciptakan lapangan kerja, memberi motivasi dan membimbing  masyarakat dari keterbelakangannya.

Pada momentum peringatan hari pahlawan 2017 kali ini, kita dituntut untuk menjadi pahlawan-pahlawan baru yang selalu berkarya untuk merubah negeri ini. Untuk itu kita selalu dituntut untulk berkontribusi terhadap perkembangan dan perubahan bangsa Indonesia.

Itulah sebabnya sampai kapan pun semangat kepahlawanan harus terus ada di setiap jiwa raga seluruh anak bangsa. Saat itu harapan akan muncul pahlawan yang akan mampu memperbaiki bangsa ini atas keterpurukan di semua sektor.

Kepahlawan itu bukan sekedar gelar, tetapi merupakan sikap hidup. Bila kita mengambil sikap hidup untuk tidak korupsi, kolusi dan nepotisme, maka itulah makna kepahlawanan dalam konteks kekinian. Sikap hidup seperti ini berarti kita telah menyelamatkan kehidupan rakyat dan bangsa kita.

 

 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats