Di Publish Pada Tanggal : Jumat, 17 November 2017 19:59 WIB

Bahagianya Warga Balangan Menikmati Air Badan Usaha Milik Desa

Paringin, HanTer - Pemerataan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat hingga ke pelosok desa, menjadi prioritas utama Pemerintah di Kabupaten Balangan. Berbagai terobosan pun dilakukan pemerintah untuk meningkatkan  kesejahteraan masyarakatnya.
 
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melalui Nawacita 9 nya juga menginstruksikan kepada seluruh daerah agar menciptakan NKRI yang aman, damai, dan sejahtera hingga ke polosok-pelosok desa. Dan yang tertera pada point ke tujuh Nawacita yaitu "Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik".
 
Selaras dengan Nawacita point ketujuh tersebut, Pemerintah Kabupaten Balangan menciptakan program Gema Desa Sehati untuk memeratakan pembangunan, kesejahteraan melalui peningkatan SDA masyarakat hingga sampai ke pelosok desa.
 
Program Gema Desa Sehati ini, dinilai menjadi langkah yang tepat dan akurat dari pemerintah untuk menciptakan desa-desa di seluruh Kabupaten berjuluk "Bumi Sanggam" ini maju dan berkembang. Pasalnya, pemerintah menginstruksikan kepada seluruh para pejabat di tiap-tiap SKPD untuk mengambil perannya masing-masing memberdayakan desa-desa.
 
Gema Desa Sehati juga bertujuan untuk membantu pemerintahan di desa untuk mengembangkan daerahnya. Mengembangkan potensi daerah yang bisa menjadi sarana meningkatkan ekonomi atau kesejahteraan masyarakat di sekitar.
 
Berbicara permasalahan desa tentu tidak bisa terlepas  dari peran Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kabupaten Balangan. Instansi ini berkewajiban mengatur pemerintahan di desa, serta memberdayakan melalui bermacam-macam program untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat didesa-desa.
 
Salah satu contohnya adalah program Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).  Dengan Bumdes ini aparatur desa sebelumnya diberi pembakalan ilmu tentang penerapan dan pelaksanaan hal tersebut. Pengelola Bumdes sendiri dibentuk oleh pemerintahan desa untuk menjalankan dan bertanggung jawab atas pelaksanaan program Bumdes di daerah masing-masing.
 
Pelaksana Bumdes dituntut mampu membuka atau membuat lapangan kerja atau sebuah usaha yang dapat menjadi sumber pendapatan atau penghasilan para warga atau anggotanya. Bumdes juga memiliki modal anggaran yang diberikan pemerintah melalui instansi terkait, dari dana tersebut lah para pelaksana Bumdes harus cermat memilih usaha yang dapat memutar roda perekonomian didaerahnya.
 
Salah satu contoh desa yang berhasil menjalankan Bumdes yaitu Desa Auh Kecamatan Tebing Tinggi. Desa yang berada di daerah pegunungan ini berhasil mengembangkan potensi daerahnya menjadi lahan untuk meningkatkan perekonomian desa.
 
Desa Auh ini termasuk desa yang terpencil, namun seiring berjalannya waktu, desa yang dulunya akses jalan menuju daerah itu sangat lah susah sekarang sudah mulus, serta dialiri listrik. Bahkan belum lama tadi sudah bisa mengakses air bersih dari PDAM.
 
Namun dengan segala fasilitas yang diberikan pemerintah tersebut tidak serta merta membuat warga Desa Auh terlena akan semuanya. Aparat desa dan seluruh komponen desa bekerja sama untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan mereka.
 
Disini lah peran Bumdes Desa Auh ini dalam upaya peningkatan ekonomi anggota dan warga Desa Auh. Dari Bumdes itu terbentuklah sebuah koperasi yang bernama Gunung Agung Mandiri. Koperasi ini yang mengatur sedemikian rupa bagaimana proses para anggotanya untuk bisa menciptakan lapangan usaha perorangan maupun kelompok.
 
Bumdes Desa Auh ini sebelumnya di akhir tahun 2016 tadi mendapatkan anggaran dana dari pemerintah untuk menjalankan Bumdes sebesar Rp45 juta, dan kemudian di awal tahun 2017 kembali mendapatkan anggaran sebesar Rp60 juta. Dari total anggaran sebesar Rp105 juta tersebut, koperasi Gunung Agung Mandiri ini mampu menjalankan usaha dari berbagai sektor. Seperti sektor pertanian dan layanan air bersih.
 
Perlu diketahui, bentuk alam Desa Auh berada di pegunungan, tanahnya subur dan udaranya segar, serta sungai yang mengalir di desa tersebut pun jernih dan bersih. Melihat potensi alam seperti tersebut, koperasi lalu membuat usaha penyaluran air bersih dari sungai ke rumah-rumah warga.
 
Air sungai disedot menggunakan mesin pompa air, kemudian dikumpulkan dalam tong besar dan dialirkan ke rumah-rumah warga melalui pipa-pipa. Pengelola air bersih ini memberikan layanan kepada warga yang ingin mendapatkan fasilitas layanan air bersih yang langsung mengalir ke rumah tanpa harus ke sungai atau ke sumur.
 
Meskipun saat ini jangkauan layanan air bersih dari PDAM sudah mencapai Desa Auh, akan tetapi masyarakat di desa itu tetap saja banyak yang memilih layanan air bersih yang disediakan oleh koperasi Gunung Agung Mandiri.
 
Ketua Bumdes Desa Auh Marjian menjelaskan, penyaluran air bersih ini dipilih sebagai salah satu usaha untuk memutar roda perekonomian di desa karena ketersediaan air bersih di daerahnya sangat berlimpah.
 
"Air di sini berlimpah, bersih, dan jernih, serta harga untuk per kubiknya sangat murah, cuma Rp3 ribu dan tanpa beban pemakaian," jelas Marjian, seperti keterangan diterima Harian Terbit, Jumat (17/11/2017).
 
Menurutnya, warga jelas lebih memilih memakai pelayanan air bersih dari koperasi dibandingkan PDAM karena harganya lebih murah, dan tanpa beban pemakaian, ditambah lagi biaya pemasangan hanya dikenakan Rp250 ribu sudah dapat merasakan layanan air bersih sampai ke rumah masing-masing.
 
"Modal awal membuat sarana penyaluran air bersih ini sekitar Rp11 juta dana tersebut dari dana Bumdes, dan sekarang modal tersebut sudah kembali dan bisa mendapat keuntungan dari layanan tersebut sampai bisa memberikan upah kepada petugas-petugas pelayanan air bersih ini," bebernya.
 
Dari sektor pertanian, lanjut Marjian, para anggota koperasi diberikan arahan atau pandangan usaha yang tepat di bidang pertanian/perkebunan, dan difokuskan kepada berkebun sayur seperti cabai.
 
"Harga cabai kan relatif tinggi, dan modal awalnya juga sangat terjangkau, sehingga modal yang sedikit yang dimiliki koperasi bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para anggotanya untuk membuat lapangan usaha sendiri atau kelompok," ungkapnya.
 
Dari total 250 KK yang bermukim di Desa Auh ini tambah Marjian, sudah ada 42 KK yang bergabung menjadi anggota dan menjalankan usaha bertanam sayur. Saat ini ada sekitar 80 KK yang mendaftar ingin menjadi anggota koperasi.
 
Jelas banyak yang tertarik ingin bergabung, kata Marjian, karena ini jelas telah terbukti dapat meningkatkan perekonomian anggotanya. Karena dengan pinjaman modal sekitar Rp2 juta an untuk luas lahan 500 meter persegi, petani cabai sudah bisa melunasi hutangnya hanya dalam 1 atau 2 kali panen,. 
 
Sedangkan dalam satu bulan bisa panen cabai 2 sampai 3 kali panen, dan ketahanan tanaman cabai mampu sampai enam bulan. Dari hitungan tersebut sudah dapat dilihat seberapa besar keuntungan para petaninya.
 
"Tapi petani cabai harus menjualnya kepada koperasi sesuai dengan harga pasaran, tidak kepada tengkulak, karena kalau ke tengkulak harganya jelas jauh lebih murah, kemudian koperasi menjualnya kembali ke pasaran, koperasi hanya meraup keuntungan dari selisih harga bibit, dan pupuk yang ada di pasaran," ungkapnya.
 
Marjian meyakini, kalau warga Desa Auh mau ikut serta dalam keanggotaan koperasi dan menjalankan usaha kebun cabai, tentu akan sangat berdampak pada perekonomian warga yang saat ini masih bergantung pada kebun karet. Namun saat ini sudah banyak yang beralih dari kebun karet ke kebun cabai karena tergiur harga jual yang tinggi.
 
"Saat ini modal usaha dari Bumdes sebesar Rp105 juta sudah kembali modal, dan malah sudah mendapat untung hanya dalam beberapa bulan saja menjalankannya, keuntungan yang didapat untuk koperasi saja sudah mencapai Rp7 juta per bulannya dari sektor pertanian dari lahan seluas 5 hektare milik warga, apa lagi keuntungan yang didapat para petaninya sendiri, jelas berkali lipat dari keuntungan yang oleh koperasi," tandasnya.
 
Di lain pihak, kepala Desa Auh Ahmad Efendi mengatakan, perekonomian Desa Auh saat ini meningkat, ini terbantukan oleh adanya Bumdes di desa ini. Melalui koperasi yang mengatur dan memanajemen keuangan untuk usaha desa. Menghasilkan meningkatnya penghasilan para anggotanya dan warga sekitar.
 
"Berkat bantuan dari pemerintah, kami mampu membuat usaha mandiri yang sangat membantu meningkatkan ekonomi kami, yang sebelumnya sempat terpuruk karena rendahnya harga jual karet," imbuhnya.
 
Berkat bantuan semua komponen masyarakat serta pemerintah, kata Efendi, pertumbuhan ekonomi di Desa Auh meningkat, dan mampu menciptakan ekonomi yang mandiri dan terorganisir. "Dengan modal yang ada, didukung faktor alam yang bagus, warga kami mampu menciptakan lapangan kerja sendiri dan menguntungkan," pungkasnya.

(Romi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats