Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 07 Desember 2017 10:19 WIB

TAJUK: Pilot Konsumsi Narkoba Sangat Membahayakan

Sedikitnya dalam beberapa tahun terakhir, ada lima pilot terjerat narkoba. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso menyebut, hampir semua insiden kecelakaan pesawat akibat sang pilot menggunakan narkoba.

Budi menyebut, ada pilot oleng lantaran mengisap tembakau kimia gorila. Kemudian dua pilot Susi Air baru-baru ini juga terindikasi memakai narkoba. Bahkan insiden Lion Air terjun bebas di pantai ujung landasan Bandara Ngurah Rai Bali tahun 2013 lalu juga terindikasi akibat pilot memakai narkoba.

Kemudian  dua pilot Susi Air terindikasi menggunakan narkoba jenis heroin. Sebelumnya kedua pilot ini pernah melakukan hal yang sama di maskapai lain.

Terakhir seorang pilot maskapai Lion Air berinsial MS (49) terciduk Polisi ketika menggunakan narkoba di salah satu hotel di Kota Kupang, diketahui membawa obat-obatan terlarang di dalam pesawat yang diterbangkannya.

Kepala Kepolisian Resor Kupang Kota AKBP Anthon C Nugroho, kepada wartawan di Kupang, Selasa sore, menjelaskan tersangka mengaku membawa narkoba jenis sabu dari tempat asalnya di Tangerang, Jakarta.

Menurut Anthon, satu paket narkoba jenis sabu ini disimpan sang pilot dalam dompetnya saat menerbangi pesawat menuju Kota Kupang.

Karuan saja diketahuinya dugaan sejumlah pilot mengonsumsi narkoba, dunia penerbangan nasional menjadi sorotan dunia. Banyak pihak yang mempertanyakan lemahnya pengawasan penerbangan di Indonesia. Pasalnya, hal ini sangat membahayakan kita.

Jika pengawasan lemah, bukan tidak mungkin kecelakaan penerbangan akan terjadi. Karenanya pemerintah harus berbuat sesuatu guna memastikan keamanan penerbangan.  Pemeriksaan dan penelitian yang dilakukan terhadap para penerbang sebelum dan sesudah terbang,  harus dilakukan secara super ketat. Jika itu tidak dilakukan tentu akan semakin banyak pilot yang menggunakan narkoba.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub), menyatakan pihaknya berkomitmen melakukan pengawasan dan pemberian sanksi. Pilot yang terindikasi menggunakan narkoba tidak diperbolehkan menerbangkan pesawat hingga diketahui hasil pemeriksaan yang mendetail. Pilot tersebut harus segera diperiksa secara intensif baik di Balai Kesehatan Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara maupun Badan Narkotika Nasional (BNN).

Pemeriksaan intensif terhadap semua pilot sebelum dan sesudah menerbangkan pesawat  diperlukan untuk mengetahui apakah pilot yang bersangkutan benar-benar mengkonsumsi narkoba atau tidak.

Berdasarkan aturan FAA, pilot tidak boleh mengonsumsi alkohol delapan jam sebelum terbang, atau memiliki kadar alkohol mencapai 0,4 persen dalam darah.

Selama 2010 hingga 2015, FAA mencatat ada 64 piot yang melanggar larangan alkohol dan narkoba. Sepanjang 2015, ada sekitar 1,500 personel yang bertanggung jawab atas keamanan penerbangan---termasuk 38 pilot, positif narkoba.

Pada 2014 lalu, CNN mendapat dokumen yang menyebutkan sekitar 40 persen pilot yang tewas dalam kecelakaan pesawat nonkomersial dalam beberapa tahun terakhir terindikasi dalam pengaruh narkoba atau obat-obatan. Data itu menganalisa sekitar 6,677 pilot yang tewas antara 1990 hingga 2012.

CNN memberitakan obat-obatan yang paling banyak disebut dalam dokumen itu adalah antihistamin, yang bisa menyebabkan pilot mengantuk dan gangguan jantung.  Selain antihistamin, obat-obatan yang terdeteksi pada pilot-pilot itu adalah obat penyakit jantung, obat antidepresi, hingga obat terlarang seperti mariyuana atau ganja.  Namun, yang paling mengkhawatirkan ada sekitar 4 persen dari pilot yang tewas itu terpengaruh obat-obatan terlarang atau narkoba. Meskipun jumlahnya sedikit. 

Kasus pilot yang memakai narkoba harus menjadi perhatian serius semua pihak. Kita menginginkan pilot-pilot yang bertugas membawa penumpang lewat pesawat terbang selain sehat dan pintar haruslah memiliki attitude yang baik.  

Itulah sebabnya pihak maskapai harus benar-benar menyaring pilot-pilot yang layak terbang, termasuk dari kondisi kesehatan dan sikap.

Kita  juga berharap Kemenhub membuat aturan dan  suatu mekanisme yang memberikan efek jera terhadap penggunaan narkoba oleh penerbang. Semua pihak harus dilibatkan  dalam pemeriksaan kondisi pilot dan awak kabin sebelum terbang.

Terahir, kita harapkan semua operator penerbangan sipil Indonesia untuk kembali memastikan terpenuhinya peraturan keselamatan penerbangan sipil yang telah ditetapkan, terutama Prosedur Standar Operasi Persiapan Penerbangan seperti pemeriksaan kesehatan dan kendali operasi.

 

 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats