Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 20 Desember 2017 09:29 WIB

TAJUK: Ekonomi 2018 Membaik Atau Memburuk

Pergantian tahun tinggal beberapa hari lagi. Bagaimana perekeonomian Indonesia tahun depan? Membaik atau jalan di tempat? Yang jelas dari proyeksi dan analisis para pakar ekonomi, pertumbuhan ekonomi kita tidak akan bergerak jauh dari pertumbuhan di tahun 2017, bertengger di angka 5 sampai 5,17 persen.

Sementara itu pemerintah yakin perekonomian tahun depan tumbuh 5,3–5,4 persen, sesuai asumsi yang dipatok dalam APBN 2018. Angka itu lebih tinggi bila dibandingkan dengan target pertumbuhan tahun ini yang dipatok 5,17 persen.

Dalam acara CEO Forum di Jakarta Rabu (29/11), Presiden Joko Widodo menyatakan, salah satu penopang pertumbuhan tahun depan adalah maraknya aktivitas ekonomi di daerah. Selain itu, menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution, pada 2018 Indonesia menghadapi tahun politik, ada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. 

Dari mancanegara, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan perekonomian RI tahun depan tumbuh hanya 5,3 persen pada 2018.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada Tony Prasetiantono juga memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan mencapai 5,3%.

Namun bagi begawan ekonomi DR Rizal Ramli, pertumbuhan ekonomi 5,3 persen akan sulit dicapai, dan dia hanya meproyeksikan angka yang lebih rendah, yaitu sebesar 5 persen. Menurutnya, ditengah kebijakan pengetatan angaran, akan sulit mencapai angka 5,3 persen.

Tentu rakyat berharap pemerintah mampu meningkatkan pertumbuhan tahun depan di atas angka 6 persen, sehingga ekonomi nasional bergairah, lapangan pekerjaan tersedia, sehingga mengurangi angka kemiskinan.

Kalau menurut Rizal Ramli, pertumbuhan ekonomi bisa dipacu lebih tinggi, bahkan bisa mencapai 6,5 persen jika pemerintah melakukan terobosan, yang disebutnya sebagai “growth story”, yaitu cara inovatif. Jadi jangan melakukan pengetatan keuangan, tetapi malah harus diperlonggar.

Patut kiranya Presiden Jokowi dan tim ekonominya di kabinet untuk melakukan berbagai teroboan yang diusulkan mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli itu. Ini semata-mata demi bangsa dan demi rakyat.

Pertama, memperlonggar anggaran atau belanja pemerintah. Menurut Rizal, di tengah perlambatan ekonomi, pengetatan anggaran merupakan kebijakan yang tidak tepat. Pengetatan belanja akan membuat ekonomi stagnan. Apalagi, kebijakan tersebut terbukti gagal di sejumlah negara seperti Yunani.

Kedua, memompa fiskal dengan menggunakan dana non-APBN. Rizal Ramli mengatakan, mengapresiasi kebijakan Presiden Joko Widodo dalam memacu pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa dengan menggunakan dana APBN. Namun, infratruktur di Pulau Jawa harus menggunakan dana di luar APBN. Kebutuhan dana tersebut, katanya, bisa diambil melalui kebijakan revaluasi aset BUMN. Dalam hitungannya, revaluasi bisa meningkatkan aset BUMN menjadi 2500 triliun, sehingga bisa mendapatkan dana pinjaman sebesar US$100 milar.

Ketiga, memompa bisnis ritel dengan cara meningkatkan kredit. Rizal Ramli  menargetkan pertumbuhan kredit harus mencapai 15-17 persen sehingga bisa menggerakkan roda perekonmian rakyat.

Keempat, mengganti impor dengan sistem tarif, dan bukan sistem kuota. Hal itu, katanya, bisa mengurangi kartel yang menyebabkan tingginya harga barang impor.

Siapapun yang mengusulkan selama itu baik untuk kemajuan ekonomi di negeri ini, patut dicoba. Yang penting bagi rakyat adalah dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, mereka tidak lagi kesulitan dalam memenuhi sandang pangan, untuk biaya keehatan, pendidikan, dan kebutuhan lainnya.

Dan secara politik, meningkatnya pertumbuhan ekonomi secara otomatis meningkatkan kepercayaan rakyat terhadap Presiden Jokowi. Sebaliknya, jika pertumbuhan jalan di tempat, tentu rakyat akan putus asa dengan pemerintah saat ini, dan sangat mungkin mereka tidak percaya lagi terhadap Jokowi dan para menterinya.

Kini saatnya Presiden Jokowi mengevaluasi, mengkaji ulang semua yang dikerjakan tim ekonomi di kabinetnya. Jika mereka tidak mampu layak diganti.

 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats