Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 03 Januari 2018 12:26 WIB

Peran Perempuan Dalam Membangun Jati Diri Bangsa

DALAM sebuah peradaban Bangsa, sosok perempuan memegang peranan penting dalam membangun jati diri bangsa tersebut.Sosok perempuan adalah tonggak utama dan pertama dalam mempertahankan jatidiri bangsa. Buya HAMKA mengatakan, “Jika perempuannya baik , baiklah negara, dan jika mereka bobrok, bobrok pulalah Negara. Mereka adalah tiang dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan, namun jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya.Tandanya tiangnyalah yang lapuk.” (“Buya HAMKA Berbicara Tentang Perempuan”)

Memasuki era milenial dan digitalisasi dimana batas-batas budaya dan peradaban dapat ditembus dengan hanya sekali klik dan diakses dari belahan dunia manapun.Dunia tanpa batas yang berlaku saat ini membawa ekses-ekses positif dan juga banyak membawa pengaruh negatif bagi sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Melemahnya karakter dan jatidiri bangsa tergerus oleh pengaruh budaya asing yang menggempur, berasal dari berbagai informasi yang tersebar luas lewat berbagai media massa baik media konvensional maupun media digital. Proses tergerusnya jatidiri bangsa dapat diminimalisir dengan penguatan karakter dan membangun jatidiri bangsa yang berawal dari lingkungan terkecil.

Perempuan saat ini sudah sangat paham akan hak-hak dasarnya dan sudah terbuka peluang yang sangat luas untuk mengembangkan diri dengan berbagai pilihan akan menjadi apa diri mereka. Perempuan juga sudah dapat merebut posisi-posisi penting dalam pengambilan keputusan dan kebijakan.Namun demikian diskriminasi dan tindakan kekerasan juga masih sering dialami oleh perempuan, padahal perempuanlah tiang utama dari sebuah peradaban bangsa.

Kali ini saya tidak akan berbicara mengenai upaya pencegahan disksiminasi dan pencegahan kekerasan pada Perempuan, dengan dibahasanya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual oleh DPR, adanya UU KDRT dan tumbuhnya kesadaran dari para pemimpin dalam upaya perlindungan Perempuan merupakan upaya serius melindungi tiang Negara ini.

Perempuan dalam Membangun Jatidiri BangsaPerempuan  meskipun tidak harus selalu tampak tapi bisa diibaratkan adalah sebuah benteng yang kekokohannya dapat menjadi tiang bagi sebuah peradaban bangsa. Mengapa begitu?Perempuan adalah al-madrasatu al-ula, yaitu madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anak mereka kelak sebagai generasi penerus bangsa.

Dari seorang perempuanlah akan terlahir para generasi penerus yang dapat menciptakan dan mengharumkan nama bangsa. Karena seorang ibu yang notabene seorang perempuan yang pertamakali menanamkan akhlak, kepribadian, karakter dan jatidiri.Dari seorang ibulah pertamakali seorang anak dapat memahami hakikat diri sebagai manusia Indonesia seutuhnya.

Seorang ibulah yang dapat mengenalkan pada nilai-nilai kehidupan sebagai manusia yang berketuhanan nilai manusia yang religius mengenal Tuhannya mengenal agamanya dan ajaran-ajarannya agama sebagai jalan menuju kebaikan dalam kehidupan.

Dari seorang ibulah pertamakali diperkenalkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme, kebanggaan akan bagian menjadi bangsa ini, bagaimana menghargai dan mencintai apa yang sudah disediakan oleh negeri tercinta ini. Mencintai keindahan dan menghargai seni budaya dan norma kehidupan bangsa Indonesia seutuhnya.

Dari seorang ibulah belajar untuk mandiri dan berintegritas, seorang ibulah yang dapat mengajarkan anak-anaknya  untuk memiliki rasa bertanggung jawab dan mengajari untuk tetap mandiri agar tidak tergantung pada bangsa lain kelak, seorang ibulah yang pertamakali mengajarkan untuk berbagi dan bekerjasama, nilai2 karakter bangsa kita yaitu Gotong royong yang tertanam pertamakali dari seorang ibu dalam melaksanakan tugas sehari-hari di rumah.

Seorang ibu pulalah yang pertamakali menanamkan nilai-nilai karakter bangsa dalam diri seorang anak. Bukan lewat kegiatan belajar mengajar dan teks literasi yang berbelit, bukan pula lewat mata pelajaran yang mewajibkan ada penilaian lewat ulangan dan ujian, namun pendidikan dalam rumah yang diwarnai kasih sayang dan menjadikan pola pengasuhan lewat keteladanan yang diharapkan dapat menciptakan generasi yang Berkarakter sesuai Jatidiri Bangsa Indonesia.

Benteng pertahanan  terakhir dari pengaruh asing yang dapat menggerus budaya dan peradaban bangsa Indonesia adalah keluarga, dan Ibulah seorang Perempuan panglima terdepannya. Ibulah yang bertugas sebagai penjaga peradaban, penjaga budaya dan panglima dalam membangun karakter bangsa.

Tugas kita sebagai seorang perempuan yang menyadari terkikisnya nilai-nilai peradaban dan budaya bangsalah, yang harus bersama-sama menyadarkan kaum perempuan lainnya dan seluruh bangsa ini agar tidak terpedaya dan terlemahkan oleh masuknya berbagai budaya sehingga melupakan jatidiri kita sebagai bangsa Indonesia.Sudah saatnya perempuan Indonesia menjadi benteng untuk tetap menegakan TRISAKTI Founding Father kita Ir. Soekarno.Berdaulat dalam politik, berdikari dalam bidang ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan.

Oleh: Febby Lintang, Aktivis Perempuan dan Anak, Ketua Umum Gen Taskin, Pengurus Yayasan Pendidikan Nurul Fatimah, Anggota Pokja Rehabsos Korban Traficking dan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak Kemensos

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats