Di Publish Pada Tanggal : Senin, 12 Maret 2018 13:09 WIB

TAJUK: Karpet Merah Untuk Tenaga Kerja Asing

KEHADIRAN tenaga asing kerap menjadi pertentangan bagi tenaga kerja lokal. Sejumlah kalangan menunding pemerintah pro asing dibanding masyarakatnya sendiri. Diperkirakan, Indonesia bakal diserbut tenaga kerja asing (TKA).

Saat ini saja jumlah TKA membludak. Kementerian Tenaga Kerja mencatat, jumlah TKA hingga saat ini mencapai 126 ribu orang atau meningkat 69,85 persen dibandingkan akhir 2016 sebanyak 74.813 orang. Mayoritas pekerja tersebut berasal dari China.

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menuturkan, selain berasal dari China, para pekerja asing juga banyak berasal dari Jepang, Amerika Serikat, dan Singapura. Kendati jumlahnya melesat, pemerintah masih berkeinginan untuk mempermudah masuknya TKA profesional yang masih dibutuhkan di sektor-sektor tertentu.

Namun, Hanif menegaskan, permudahan perizinan TKA ini hanya ditujukan bagi tenaga kerja yang sudah ahli. Ia menjamin, pekerja kasar dan jenis-jenis pekerjaan lain yang bisa diisi oleh Warga Negara Indonesia (WNI) tetap dilindungi. Hanya saja, ia tak menyebut jenis-jenis pekerjaan yang bisa dengan mudah diisi oleh TKA.

Di saat membludaknya TKA itu, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengaku heran banyak masyarakat yang mempertentangkan kehadiran TKA. Padahal, pemerintah hanya ingin menyerap ilmu para pekerja asing untuk tenaga kerja lokal.

Menurutnya,  Sumber Daya Manusia (SDM) lokal tidak siap bersaing dengan TKA. 

Saat ini, Indonesia masih kekurangan tenaga kerja berkemampuan dan keterampilan khusus di beberapa sektor. Makanya, menurut Luhut, semestinya masyarakat Indonesia tak perlu khawatir dengan masuknya TKA ke Indonesia.

Untuk memudahkan masuknya TKA ke Indonesia sudah diinstruksikan Presiden Joko Widodo kepada para menterinya. Menurut Presiden prosedur rus masuknya TKA hdibuat lebih sederhana dari rencana pengajuan, izin penempatan, dan izin tinggal terbatas.

Jokowi menekankan, TKA dibutuhkan karena memiliki kualifikasi tertentu yang dibutuhkan di sektor tertentu. Ini penting, guna meningkatkan investasi di dalam negeri.

Meski pemerintah menyatakan TKA itu untuk meningkatkan investasi di Indonesia dan menyerap ilmu para pekerja asing untuk tenaga kerja lokal,  tetap membuat kalangan buruh dan publik resah dan kecewa ditengah sulitnya mereka mendapatkan pekerjaan di negaranya sendiri. Sementara orang asing begitu mudahnya mendapatkan pekerjaan di negeri ini.

Seharusnya pemerintah dapat lebih fokus menggenjot serapan tenaga kerja dalam negeri. Karena jumlah tenaga kerja yang menganggur di Indonesia cukup tinggi. Bukan malah memberi peluang kepada orang asing bekerja disini. Intinya, pemerintah harus mempunyai jalan keluar untuk mengatasi serbuan buruh asal China tersebut. 

Para pengamat menyebutkan, serbuan pekerja asal China itu semakin membuktikan bahwa pembangunan saat ini tidak lagi berpihak pada bangsa sendiri dan sudah tidak memiliki saringan atau filter terhadap apapun pengaruh  dari asing. Padahal seharusnya pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya sendiri.

Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Aspek) menolak kebijakan pemerintah atas keberadaan tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan masih tingginya angka pengangguran dan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami pekerja di Indonesia. Aspek mengimbau Presiden Joko Widodo untuk mengutamakan kepentingan rakyat ketimbang asing.

Pemerintah seharusnya lebih memberikan perhatian kepada rakyat dengan cara melindungi setiap kepentingan rakyat, antara lain jaminan ketersediaan lapangan pekerjaan dan pemenuhan hak dasar pekerja.

Selain itu pemerintah lebih memberikan perlindungan kepada tenaga kerja Indonesia, bukan malah memberikan 'karpet merah' pada pekerja asing untuk mudah bekerja ke Indonesia. Apalagi, dari aspek SDM, tenaga kerja lokal tidak kalah hebatnya dengan TKA.

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats