Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 22 Maret 2018 12:58 WIB

Adams, Majalah Indonesia Tatler atau Pengacara Tak Boleh Sesatkan Fakta

Jakarta, HanTer – Advokat Dr Ir Albert Kuhon MS SH menuding, tanggapan pihak dokter Adams Selamat Adi Kuasa Hardiyanto yang dipublikasikan harianterbit.com tertanggal 19 Maret adalah penjelasan yang menyesatkan. 
 
“Banyak hal yang diputarbalikkan, sehingga menutupi fakta tentang yang terjadi sebenarnya antara Adams dan orangtuanya,” kata penasihat hukum yang mendampingi Ello Hardiyanto dan Gina Kalalo, orangtua kandung Adams.
 
Advokat yang mantan wartawan itu menegaskan, semestinya penasihat hukum yang mendampingi Adams bisa membedakan urusan pemberitaan bohong dengan masalah hubungan keluarga antara Adams dengan orangtuanya. Urusan pemberitaan bohong melibatkan Majalah Indonesia Tatler. 
 
“Penyebaran berita bohong sama sekali bukan urusan keluarga. Ini sepenuhnya pidana. Karena penyebaran berita bohong itu melalui media online, maka kasusnya berada dalam ranah Undang-undang Informatika dan Transaksi Elektronik. Jadi sama sekali bukan urusan keluarga,” ujar Albert Kuhon dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (22/3/2018).
 
Kasus Indonesia Tatler 
 
Ello Hardiyanto dan Gina Kalalo, orangtua kandung Adams.
 
Majalah Indonesia Tatler versi cetak Edisi Maret 2017 dan versi online Edisi Maret 2017, menyiarkan sebuah foto yang berisi gambar perkawinan Adams Selamat Adi Kuasa Hardiyanto dan Clarissa Puteri Wardhana. Resepsinya berlangsung 15 Januari 2017 di Hotel Mulia, Jakarta Pusat.
 
Foto yang disiarkan Indonesia Tatler itu disertai teks atau keterangan dalam Bahasa Inggris The bride and groom along with their parents yang pada pokoknya berarti “Kedua mempelai bersama kedua orangtuanya masing-masing.” Isi foto itu terdiri gambar enam orang. Di bagian tengah tampak berdiri Adams Selamat Adi Kuasa Hardiyanto dan Clarissa (mempelai), di bagian paling kiri adalah Yansen Dicky Suseno dan Inge Rubiati Wardhana (orangtua Clarissa), dan yang paling kanan adalah dua orang “figuran” yang digambarkan sebagai sebagai orangtua Adams.
 
Teks foto tersebut jelas sangat tidak akurat dan mengandung kebohongan yang menyesatkan. Orangtua Adams yang sebenarnya, Ello Hardiyanto dan Gina Kalalo, tidak hadir dalam resepsi itu. “Managing Editor Indonesia Tatler sendiri sudah mengakui kesalahan mereka kepada Ello dan menjanjikan ralat. Ada bukti tertulisnya lho,” kata Albert Kuhon.
 
Dewan Pers Oktober 2017 juga sudah menyatakan Majalah Indonesia Tatler terbukti melakukan pelanggaran dalam pemberitaan masalah itu. Dan menemukan bahwa PT Mobiliari Stephindo yang menerbitkan majalah itu, tidak memiliki izin sebagai perusahaan media. 
 
“Kok sekarang tiba-tiba muncul orang yang tidak paham soal publikasi, yang berani mengatakan bahwa ini adalah urusan keluarga?” ujar Kuhon.
 
Kuhon menegaskan, Majalah Indonesia Tatler sampai pertengahan Maret 2018 ini, sama sekali belum memenuhi hak jawab dan hak koreksi sebagaimana diatur dalam Peraturan Dewan Pers No 09/Peraturan-DP/X/2008 tentang Pedoman Hak Jawab, Pasal 11 Kode Etik Jurnalistik dan Pasal 5 ayat 2 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. “Padahal, berita bohong itu disebarkan Indonesia Tatler setahun yang lalu,” kata Albert Kuhon. 
 
Cek-cok Keluarga
 
Awal Oktober 2016, terjadi cek-cok orangtua Clarissa dan orangtua Adams di salah satu rumah makan di Jakarta Pusat. Insiden itu, membuat Ello menunda cicilan terakhir biaya sewa ruang resepsi di Hotel Mulia. Akhir Oktober 2016, Adams yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis di Universitas Sam Ratulangi, pulang ke Jakarta menemui Ello.
 
Adams minta agar ayahnya melunasi cicilan terakhir tersebut. Sedang ayahnya mengatakan dia akan bayar jika calon besannya (calon mertua Adams) mau berdiskusi baik-baik. Namun, permintaan itu membuat hubungan Adams dan orangtuanya makin memanas.
 
Tak lama kemudian, Adams diam-diam mengangkut seluruh barangnya. Ibunya masih sempat memberinya uang saku, karena mengira Adams akan pulang ke Manado melanjutkan sekolahnya. Ternyata Adams pergi melalui jalan belakang dan tidak pernah kembali sampai saat ini. Kepergian tersebut baru diketahui Gina malam harinya, sewaktu mendapatkan kenyataan bahwa Adams membawa semua barang-barangnya.
 
Akibat pertengkaran itu, Ello mengalami depresi yang cukup berat. Ia diberi obat-obatan antidepresi dan sempat dirujuk agar dirawat oleh psikiater. Ello harus menggunakan tongkat dan dipapah sewaktu berjalan. Kondisi seperti itu berlangsung sampai April 2017.
 
Soal Resepsi
 
Pertengahan November 2016, pengacara Martogi Naibaho yang mewakili Yansen Dicky Suseno (calon mertua Adams), berkirim surat kepada Ello Hardiyanto dan Gina Kalalo. Isinya antara lain menyebutkan bahwa cicilan yang sudah dibayar oleh Ello (sekitar Rp 750 juta) kepada Hotel Mulia dianggap hangus. 
 
“Diminta Bapak dan Ibu tidak mencampuri lagi pelaksanaan perayaan pernikahan tersebut,” demikian antara lain bunyi surat Naibaho yang mewakili kliennya.
 
Sampai Oktober 2016 tersebut, Ello dan Gina sudah membayar cicilan sewa ruang resepsi sebanyak Rp 750 juta. Mereka juga sudah memberikan mas kawin dan barang-barang yang diminta oleh calon menantunya senilai ratusan juta rupiah. Namun, justru besannya melalui surat Naibaho itu minta Ello dan Gina tidak ikut campur dalam resepsi perkawinan Adams. 
 
“Jadi, dari mana datangnya cerita `beberapa hari sebelum hari pernikahan tersebut, Ello berubah sikap dan tiba-tiba tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Clarissa` seperti yang dikutip oleh Harian Terbit?” tanya Kuhon lebih lanjut.
 
“Kok ada pengacara yang bisa menulis: Sebelumnya Ello Hardiyanto sendiri sudah menyatakan dan bahkan mengancam kepada Adams agar tidak menuliskan nama Ello Hardiyanto dalam undangan pernikahan tersebut, karena jika dituliskan namanya, maka Ello akan berbuat onar. Ini salah satu bukti penjungkirbalikan fakta,'' kata Albert Kuhon.
 
Putus Hubungan
 
Akhir Mei 2017, Adams memasang iklan di dua media cetak. Isinya menyatakan putus hubungan keluarga dengan Ello Hardiyanto. Pemutusan hubungan keluarga itu diberitahukan kepada Ello oleh pengacara Irawan Arthen, SH MH MM dan Michael R Pardede SH MH yang mewakili Adams. Sebelumnya, tidak ada kejadian atau keributan apa-apa antara Adams dengan Ello Hardiyanto. 
 
“Biarlah publik yang menilai, pantas atau tidak seorang anak memutuskan hubungan keluarga dengan orangtuanya,” kata Kuhon sambil menunjukkan iklan tersebut.
 
Setelah pernyataan sikap dan pemutusan hubungan keluarga oleh Adams, barulah Ello mulai bertindak. Apalagi melihat Majalah Indonesia Tatler ingkar janji dan tidak memuat hak jawab yang dimintanya. Akhir Juli, Ello menyurati pimpinan Universitas Sam Ratulangi, soal kasus Adams.
 
“Jadi, bukan Ello berkirim surat ke universitas baru kemudian muncul iklan Adams. Justru iklan pemutusan hubungan keluarga itulah yang menjadi salah satu pemicu Ello berkirim surat ke universitas,” ujar Kuhon.
 
Advokat itu mengajak orang awam menilai, siapa yang sebetulnya bisa disebut tega. “Apakah Ello dan Gina yang telah bertindak tega kepada anak mereka? Atau sebaliknya, Adams yang telah sangat tega kepada orangtuanya?”
 
Kuhon menegaskan, semakin banyak kebohongan yang dikemukakan, akan semakin kelihatan siapa yang berbohong. Kebenaran dan fakta tetap akan tampil walau diupayakan ditutup-tutupi. “Adams, Majalah Indonesia Tatler atau pengacara mana pun, tidak boleh memperkosa fakta dan kebenaran!” kata Kuhon.

(Anugrah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats