Di Publish Pada Tanggal : Senin, 07 Mei 2018 13:32 WIB

TAJUK: Lagi, Lagi, Lagi Anggota DPR Ditangkap KPK

LAGI,  lagi, lagi,  anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ditangkap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT).  Kali ini yang ditangkap adalah anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Demokrat Amin Santono.

Bersama Amin ditangkap juga tiga orang lainnya yakni Eka Kamaluddin dari pihak swasta, Yaya Purnomo pejabat Kasi Pengembangan Pendanaan Kawasan Perumahan dan Permukiman Ditjen Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan dan Ahmad Ghaist dari pihak kontraktor.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, keempatnya ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan karena diduga terkait kasus korupsi penerimaan hadiah atau janji terkait usulan dana Perimbangan Keuangan Daerah pada RAPBN-P TA 2018. Kronologi penangkapan berawal saat KPK mendapat informasi pertemuan antara Amin, Eka, Yaya, dan Ghaist di daerah Halim, Jakarta, Jumat (4/5/2018). 

Wakil rakyat yang terjerat kasus korupsi terus bertambah jumlahnya. Dalam kasus proyek e-KTP ada puluhan anggota DPRdiduga menerima aliran dana proyek yang merugikan negara Rp2,3 triliun. Kita hanya bisa geleng-geleng kepala dengan anggota dewan yang terlibat kasus korupsi, karena sebagai wakil rakyat yang terhormat sangat tidak pantas melakukan hal tersebut.

Anggota dewan  kita sepertinya tak ada kapok-kapoknya. Meski sudah ratusan anggota DPR dan DPRD yang berurusan dengan hukum terkait kasus suap dan ditangkap KPK maupun Kejaksaan karena dugaan menerima suap, tetap saja masih ada wakil-wakil kita yang terhormat itu  berani menerima suap.  Mereka tidak ada takutnya, tidak merasa malu dengan status yang disandang sebagai orang terhormat.  

Tak hanya wakil rakyat, sudah banyak pula pejabat negara seperti menteri, gubernur, bupati dan walikota yang terlibat kasus korupsi. Anehnya, tetap saja masih ada yang berani menerima suap. Kokbisa? Itulah kenyataannya, banyak wakil rakyat dan pejabat negara terjerumus kasus korupsi.

Terus terulangnya kasus suap itu semakin membuktikan negeri ini memang sudah darurat korupsi. Juga membuktikan betapa bobroknya moralitas pejabat negara kita, meski kita akui masih ada pejabat yang bermoral dan memiliki integritas. 

Berbagai kalangan menyebut, terjerumusnya wakil rakyat dalam pusaran korupsi karena mereka ingin mengembalikan modal besar yang mereka keluarkan saat hendak menjadi wakil rakyat pada pemilu. Juga karena mereka tidak tahan miskin dan ingin hidup bermewah-mewahan.

Beruntunnya kasus korupsi yang melibatkan wakil rakyat semakin mengindikasikan seolah-olah lembaga perwakilan kita itu menjadi etalase atau ‘sarang kejahatan’. Atau bisa mengindikasikan masifnya korupsi dan permainan proyek yang melibatkan wakil rakyat. Bukan tidak mungkin masih banyak anggota lain yang t bermain,  namun belum kedapatan sampai sekarang.

Kita prihatin dengan kelakuan para wakil rakyat kita itu. Ditengah penderitaan rakyat, mereka tega berprilaku korup. Kasus ini harus dicegah, caranya dengan memberikan hukuman yang berat kepada pelaku tindak pidana korupsi.

Mudah-mudahan di waktu yang akan datang wakil rakyat yang menerima suap, segera berkurang dengancepat. Rakyat membutuhkan hadirnya wakil rakyat yang benar-benarterhormat, jujur, dan berintegritas.

Kita menyayangkan tertangkapnya kembali anggota DPR Amin Santono tersebut. Terlebih penangkapan terjadi saat bulan puasa yang penuh berkah. Ini memprihatinkan, seharusnya di bulan puasa ini tidak terjadi seperti ini.

Kita berharap agar wakil rayat harus menghindari praktek suap dan korupsi, karena akan merugikan masyarakat. Sebagai pejabat yang dipilih rakyat, seorang anggota DPR  harus mengutamakan kepentingan warga ketimbang kepentingan pribadi.


 

 

 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats