Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 05 Juni 2018 12:47 WIB

TAJUK: Pemerasan Berdalih THR

Tunjangan hari raya (THR)  sudah menjadi tradisi kultural di Indonesia apabila menjelang Hari Raya Idul Fitri. Pemberian THR ini tentu sangat berarti bagi pekerja karena bisa memanjakan keluarga mereka dengan pakaian baru, hidangan lezat, membayar zakat, persiapan untuk mudik,  dan keperluan lain yang diperlukan untuk merayakan hari raya.

Pemberian THR Hal tertuang pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016. Dalam aturan ini pengusaha wajib membayarkan THR Keagamaan pada pekerja atau buruh. Ini merupakan pendapatan non-upah yang wajib dibayarkan pengusaha kepada pekerja/buruh atau keluarganya menjelang hari raya keagamaan. Hal ini ditegaskan dalam pasal 1 ayat 1.

Pengusaha wajib memberikan THR kepada pekerja yang telah memiliki masa kerja 1 bulan secara terus-menerus atau lebih. Demikian penjelasan pasal 2 ayat 1. Kemudian, pasal 2 ayat 2 disebutkan, THR diberikan pada pekerja atau buruh yang memiliki hubungan kerja dengan pengusaha berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau perjanjian kerja waktu tertentu.

Besaran THR diatur dalam pasal 3 ayat 1. Pekerja atau buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus-menerus atau lebih diberikan satu bulan upah. Kemudian, pekerja atau buruh yang mempunyai masa kerja satu bulan secara terus-menerus tetapi kurang dari 12 bulan, diberikan secara proporsional dengan hitungan masa kerja dibagi 12 dikali satu bulan upah.

Namun kenyataannya, THR juga sering kali diberikan kepada mereka yang bukan karena ada ikatan kerja, hubungan antara pengusaha dan karyawannya.

Permintaan THR juga kerap dilakukan dengan pemerasan. Misal, menjual nama instansi pemerintah,  dan perusahaan yang  bermasalah biasanya melayani permintaan THR dari mereka yang bukan karyawan. Bisanya permintaan THR tidak sah ini dilakukan oknum-oknum LSM, ormas, dan orang-orang tertentu.

Biasanya mereka mendatangi si pengusaha dengan dalih meminta sumbangan acara keagamaan, padahal semua itu tujuannya untuk meminta THR. Ada juga yang langsung menelepon pengusaha, untuk memberi THR.

Ya, pemerasan berdalih THR masih saja terjadi. Pemerasan berdalih THR  ini tak boleh dibiarkan, mesti ada tindakan tegas dari aparat penegak hukum. Pemerintah juga haruis melindungi pengusaha yang selalu menjadi objek pemerasan.  Pasalnya, si pengusaha itu sudah memberikan THR kepada karyawannya.

Meski sudah menjadi hal pekerja, masih ada saja perusahaan yang tidak memberikan THR. Hal ini merupakan fenomena yang terus menerus terjadi di dalam dunia hubungan industrial khususnya di Indonesia.

Pemberian THR sangat dinantikan pekerja karena dengan THR mereka bisa  mempersiapkan kebutuhan lebaran dengan lebih baik. THR juga bisa kita gunakan untuk membayar zakat fitrah. Juga digunakan untuk mudik ke kampung halaman. Berlebaran dengan keluarga memang sangat menyenangkan.

Kita juga meyakini pemberian THR akan menumbuhkan daya dorong pada karyawan untuk memperoleh prestasi kerja.  Pekerja kakan merasa puas dan termotivasi untuk mencapai target kerjanya. Selain untuk meningkatkan semangat kerja karyawan, pemberian THR juga untuk kesejahteraan karyawan.

Dengan demikian, tidak ada ruginya perusahan memberikan THR kepada pekerjanya. Perusahaan yang membayarkan THR kepada buruhnya justri akan mendapat berbagai hal positif, antara lain mendapatkan pekerja yang memiliki prestasi kerja tinggi.

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats