Di Publish Pada Tanggal : Rabu, 01 Agustus 2018 06:25 WIB

TAJUK: Mencari Solusi Terhindar dari Krisis Ekonomi

Negeri ini terancam krisis ekonomi. Sementara jumlah warga miskin masih tinggi, utang menumpuk, pelemahan rupiah terus terjadi. Masalah ini menjadi sorotan ratusan tokoh dan kalangan aktivis. Mereka berkumpul dalam sebuah diskusi publik "Ancaman Krisis Ekonomi" untuk membicarakan dan mencarikan solusi dari ancaman tersebut.

Tentu saja para tokoh, aktivis dan seluruh rakyat tak menginginkan Indonesia mengalami krisis. Tokoh yang akan hadir pada pertemuanini antara lain DR. Rizal Ramli, Ferry Juliantono, Ekonom Kwik Kian Gie, Rahmawati Sukarnoputri, dan tokoh lainnya. Ada juga pimpinan organisasi nelayan, buruh, tani dan mahasiswa.

Diskusi publik diharapkan membicarakan soal kemiskinan, utang, pelemahan rupiah, dan lainnya. Soal kemiskinan yang melanda negeri ini, yang menurut Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menyebut penduduk miskin di Indonesia berjumlah 100 juta orang.

Ketua Umum Partai GerindraPrabowo Subianto mengatakan, mata uang kita tambah, tambah rusak, tambah lemah. Apa yang terjadi adalah dalam lima tahun terakhir kita tambah miskin, kurang-lebih 50% tambah miskin.

Data menyebutkan setelah Reformasi, laju penurunan kemiskinan era Habibie adalah 1,1% /tahun. Gus Dur adalah 5,01% dalam 2 tahun, atau lajunya 2,5%/tahun. SBY periode pertama 2,5% dalam 5 tahun, atau lajunya 0,5%/tahun. SBY periode kedua 3,46% selama 5 tahun, atau lajunya 0,69%. Sedangkan Jokowi adalah 1,1% dalam 4 tahun, atau lajunya 0,28%/tahun.

Ekonom senior DR Rizal Ramli (RR) bahkan menyebut kondisi perekonomian Indonesia kondisi lampu kuning (setengah merah). Lemahnya kondisi ini disebabkan oleh berbagai defisit seperti dalam neraca perdagangan dan transaksi berjalan.

RR melihat, pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan stagnan, dan jumlah masyarakat miskin tidak menurun secara drastis. Ekonomi melemah, rakyat semakin tertekan.

Kita sepakat dengan  mantan Menko Perekonomian era Abdurahman Wahid ini, jika pengelolaan ekonomi masih sama seperti sekarang ini, maka bisa diprediksi kondisi ekonomi dua tahun ke depan tidak akan jauh beda dengan kondisi ekonomi dua tahun belakangan.

Soal pelemahan rupiah juga sudah membuat Presiden Jokowi khawatir. Ia meminta jajarannya agar serius dalam menghadapi situasi pelemahan nilai tukar rupiah dan kondisi negara yang membutuhkan cadangan dolar seperti saat ini. Presiden meminta seluruh kementerian/lembaga betul-betul serius, tidak main-main menghadapi ini. Semua harus serius menghadapi ini.

Kondisi ekonomi seperti itu semakin membuktikan tim ekonomi pemerintah telah gagal memperkirakan atau gagal melakukan forecasting situasi ekonomi nasional- yang seharusnya menjadi kompetensi utama mereka.

Ekonom Ichsanuddin Noorsy bertanya, kenapa kondisi ekonomi kita bisa sesulit ini? “Ini karena menteri-menteri Jokowi banyak melakukan kebijakan yang salah dalam melakukan pembangunan infrastruktur.

Harapan kita di sisa satu tahun pemerintahannya, Presiden Jokowi harus bekerja keras untuk membuat hidup rakyat semakin sejahtera. Itulah sebabnya, pemerintah harus banyak membuat kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil.

Kondisi perekonomian yang terus memburuk semakin membuat sengsara rakyat. Harga-harga kebutuhan pokok, gas LPG, tarif listrik, tarif tol, dan lainnya terus saja melambung. Pada saat yang sama, penghasilan cenderung tidak bertambah. Sebagian besar lainnya bahkan harus mampu bertahan hidup dengan pendapatan tidak tentu karena bekerja secara serabutan.

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats