Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 11 September 2018 20:21 WIB

PKM Multi Sectoral Programs Sebagai Induksi Keahlian Multitasking Anak Jalanan

Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) Sumatera Utara mengasuh dan melakukan pendampingan terhadap  anak-anak dan remaja dari keluarga pemulung dan butut untuk meningkatkan kemampuan anak-anak dan remaja tersebut sekaligus untuk mengembangkan rasa percaya diri mereka.

Saat ini PKPA Sumatera Utara memiliki tiga lokasi komunitas dampingan anak yaitu di daerah: 1) Pinang Baris, dengan latar belakang anak sebagai anak jalanan; 2) Simalingkar, dengan latar belakang anak dari keluarga butut dan pemulung; serta 3) Ayahanda, dengan latar belakang anak sebagai anak pinggir rel.

Sampai sejauh ini, komunitas dampingan anak Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) yang berlokasi di daerah Simalingkar, Kecamatan Medan Tuntungan belum pernah mendapatkan pembinaan di bidang seni. Menurut koordinator komunitas dampingan anak di Simalingkar, Erawati dan Dio, pembinaan kegiatan yang dilakukan masih sebatas pembinaan di bidang bahasa Inggris.

Oleh karena itu, Universitas Negeri Medan melalui Lembaga Pengabdian Masyarakat menganggap perlu melakukan pembinaan keterampilan seni, dalam hal ini di bidang tari etnis Melayu dan Batak Toba, serta membuat asesoris kalung dan asesoris mahkota untuk menari. Pembinaan tersebut dilaksanakan oleh dosen dibantu mahasiswa yang kompeten di bidangnya.

Ketua tim pengabdian, Dra. Dilinar Adlin, M.Pd serta anggota tim Dr. Tuty Rahayu, M.Si dan Drs. Sugito, M.Pd mengatakan, tujuan kegiatan ini memberi pembinaan kepada anak-anak dan remaja dari keluarga pemulung dan butut, sebagai upaya meningkatkan kemampuan anak-anak dan remaja untuk mengembangkan rasa percaya diri.  

“Tujuan awal kegiatan pembinaan ini adalah meningkatkan kemampuan anak-anak dan remaja keluarga pemulung sebagai komunitas dampingan Pusat Kajian Perlindungan Anak dalam membawakan satu tari dari etnis Melayu, membuat assesoris kalung, serta asesoris kepala untuk menari. Namun dalam perkembangannya, tari yang diajarkan bertambah satu, yaitu tari dari etnis Batak Toba, demikian juga meronce asesoris bertambah satu yaitu asesoris gelang,” kata  Dilinar saat diwawancarai.

Sementara itu, Tuty Rahayu juga menyampaikan, melalui kegiatan ini bukan hanya kemampuan keahlian yang dibina, namun secara psikologis melalui kegiatan ini, secara psikologis turut dibentuk mental emosional yang kokoh dan disiplin, sehingga memungkinkan untuk terhindar dari pengaruh narkoba.

Metode pelatihan yang diterapkan dalam kegiatan pengabdian ini terbagi dalam dua tahapan, yaitu: a) Tahap pembimbingan, untuk menguasai teknik gerak tari Melayu dan Batak Toba, serta teknik mendesain asesoris kepala, kalung, dan gelang; b) Tahap pemantapan, yaitu menguasai tari Melayu dan tari Batak Toba, serta membuat mahkota dan meronce kalung + gelang.

Sementara itu menurut Sugito, pelaksanaan kegiatan pengabdian yang dijalankan oleh tim berjalan dengan baik. Peserta kegiatan dan tempat pelaksanaan sangat mendukung bagi terlaksananya keseluruhan program.

Ditambahkan juga Dilinar, bahwa kegiatan ini berdampak positif, karena melalui pelatihan ini, hasil belajar menari akan dipertunjukkan pada kegiatan yang dilangsungkan di Taman Budaya Nopember 2018 yang akan datang. Keterlibatan dalam pertunjukan tersebut adalah upaya bersama antara tim pelaksana dan koordinator kegiatan komunitas dampingan Simalingkar dengan pihak Semenda Production dalam rangka perayaan ulang tahun Lembaga Pendidikan Seni Semenda.

 

 

(***)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

free web stats